OPERATION DESERT STORM (Before it Happened)

      Pada awal tahun 1990 Irak mengalami krisis ekonomi. Tingkat pengangguran yang tinggi dan memburuknya pasar membuat Irak harus mencari jalan keluar dari krisis. Melihat negara tetangganya Kuwait, yang kaya akan sumber daya minyak bumi, membuat Saddam Hussein iri dan melakukan propaganda dengan menyatakan negara Kuwait telah menggali minyak dari ladang minyak yang terdapat di wilayah Irak. Pada bulan Juli 1990 Irak mulai masuk ke wilayah Kuwait, dan dengan Angkatan Darat terkuat ke-4 di dunia, Irak dengan mudah menguasai Kuwait. Kuwait sendiri tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti karena jumlah penduduk mereka yang kecil dan kekuatan militer mereka yang tidak sebanding. Kuwait akhirnya berhasil dikuasai hanya dalam satu hari.

           Setelah invasi Irak, pada tanggal 3 Agustus 1990, Liga Arab membuat resolusi yang bertujuan untuk menghentikan konflik dan mencegah intervensi dari luar. PBB juga melakukan upaya untuk meredam ketegangan dengan mengeluarkan resolusi pada tanggal 6 Agustus yang disebut Resolusi 661. Resolusi ini berisi embargo ekonomi terhadap Irak dan memaksa Irak untuk mundur dari Kuwait. Invasi ini juga memunculkan kekhawatiran sendiri di tubuh Amerika. Tujuan utama Amerika Serikat menyelesaikan masalah ini adalah untuk memastikan Tentara Irak tidak masuk ke wilayah Arab Saudi dan merebut ladang-ladang minyak penting yang berada di Arab Saudi. Ini dilakukan karena jika Irak berhasil menduduki ladang minyak Arab, Irak akan menguasai 40% dari pasokan minyak dunia. Amerika Serikat dengan cepat meresponnya dengan Operation Desert Shield untuk menjaga wilayah Arab Saudi dari serangan Irak yang dilakukan pada 8 Agustus 1990, 6 hari setelah invasi Irak ke Kuwait.

              Pernyataan Arab Saudi sebagai alasan Amerika Serikat terlibat dalam konflik Irak diperkuat dengan pernyataan presiden Amerika Serikat saat itu, George H.W. Bush. Hal itu terlihat dalam pernyataannya tanggal 11 September 1990, “Within three days, 120,000 Iraqi troops with 850 tanks had poured into Kuwait and moved south to threaten Saudi Arabia. It was then that I decided to act to check that aggression.” Hal itu juga diperkuat Pentagon dengan bukti foto satelit. Foto itu memperlihatkan adanya konsentrasi pasukan Irak di perbatasan Arab Saudi. Dalam sebuah pemungutan suara, 80% dari publik Amerika Serikat setuju dengan penempatan pasukan di Arab Saudi. Adanya laporan dari CIA tentang kepemilikan Irak terhadap senjata kimia, biologi, dan nuklir juga mempengaruhi keputusan Amerika Serikat untuk menyerang Irak

   

                Diluar alasan resmi dari pemerintah Amerika Serikat untuk menyerang Irak, ada satu hal yang harus diperhatikan, yaitu pemerintah Kuwait menyewa sebuah perusahaan public relation, Hill &Knowlton, sebesar 11 juta dollar AS untuk mempengaruhi opini masyarakat Amerika Serikat tentang “kekejaman” Irak. Beberapa hari setelah serangan Irak ke Kuwait, organisasi Citizen for a Free Kuwait  dibentuk, mendistribusikan buku yang menceritakan kekejaman tentara Irak terhadap tentara Amerika Serikat, kaos gratis “Free Kuwait”, pembicara di kampus-kampus, dan lusinan video untuk dirilis di televisi. Hal yang menarik lagi adalah ditampilkannya seorang wanita yang mengaku sebagai suster di Kuwait City Hospital, yang menceritakan bahwa tentara Irak mengeluarkan bayi-bayi dari inkubator dan membiarkannya mati di lantai. Pada kenyataannya, satu tahun setelah perang, wanita itu diketahui adalah anggota keluarga kerajaan Kuwait, dan dia tidak pernah tinggal di Kuwait selama serangan Irak berlangsung.

          Bukti foto satelit dari Pentagon dan cerita dari wanita yang mengaku suster ini rupanya berhasil membuat publik Amerika Serikat setuju dengan keputusan pemerintahnya untuk ikut perang. Perang Teluk ini juga dikenal sebagai perang pertama di abad ke 20 yang didukung oleh kongres. Itu terbukti dengan sebuah pemungutan suara, dimana 80% publik Amerika Serikat setuju dengan penempatan pasukan di Arab Saudi. Enam anggota kongres menyatakan hal itu sudah cukup untuk mendukung serangan terhadap Irak, sementara tujuh senator menggunakan cerita suster itu sebagai referensi dalam debat tentang keputusan Amerika Serikat untuk perang atau tidak. Pada 12 Januari, tiga hari sebelum tenggat yang diberikan PBB, kongres mengijinkan penggunaan militer untuk menarik Irak keluar dari Kuwait. Perbandingannya adalah 52-47 untuk senat, dan 250-183 untuk house of representatives.

               Di luar keputusan resmi tentang alasan Amerika Serikat menyerang Irak, ada pernyataan yang menarik dari John Stockwell, seorang mantan anggota CIA yang telah bergabung di CIA selama 13 tahun. Keputusan menyerang Irak diambil karena Uni Soviet sudah runtuh, dan senjata yang sudah dibuat selama masa Perang Dingin jadi tidak terpakai. Agar tidak sia-sia, senjata itu dipakai untuk perang terhadap Irak. Efek dari pernyataan perang terhadap Irak ini juga mengangkat kembali nama George H. W. Bush, dimana saat pemerintahannya budget untuk militer hendak dipotong, dan Bush tidak punya solusi untuk itu.

2 thoughts on “OPERATION DESERT STORM (Before it Happened)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s