UNITED STATES’ CONTAINMENT POLICY IN THE COLD WAR ERA

         Pengertian dasar dari Containment sendiri adalah membatasi kekuatan suatu negara, sehingga tidak menjadi terlalu kuat. Dalam hal ini, Containment yang dimaksud adalah kebijakan Amerika Serikat untuk membatasi pengaruh Komunis dari Uni Soviet. Alasan dasar mengapa Amerika Serikat melakukan politik Containment adalah latar belakang ideologinya yang bertolak belakang dengan Uni Soviet dan adanya informasi dari George Keenan, duta besar Amerika Serikat di Uni Soviet, dalam The Long Telegraph yang mengabarkan Amerika Serikat harus waspada terhadap imperialisme Uni Soviet. Adanya garis Zhudanov, yaitu menyebarkan pengaruh Komunis ke seluruh dunia terutama ke negara-negara yang baru merdeka, juga membuat Amerika Serikat makin waspada terhadap Uni Soviet.

             Selama era Perang Dingin, Amerika Serikat menawarkan ideologi Liberal, yaitu kebebasan individu dalam ekonomi, berpolitik dan aspek hidup yang lain. Uni Soviet sendiri menawarkan ideologi Komunis, yaitu ketidakadaan kelas, pola hidup komando, dan perasaaan sama rasa sama rata, yang jelas menarik bagi negara-negara dunia ketiga. Amerika Serikat sendiri pada era 1950an sempat takut dengan komunis karena Komunis identik dengan pemberontakan yang bisa mengacaukan sistem masyarakat yang sudah mapan seperti di Amerika Serikat. Selain itu, bila banyak negara dunia ketiga yang menjadi Komunis, maka Amerika Serikat akan kehilangan pasar untuk menjual barang-barangnya.

       Politik Containment ini dimulai dengan adanya Doktrin Truman dan Marshall Plan. Doktrin Truman yang dikeluarkan tahun 1947 berisi Amerika Serikat harus membantu rakyat merdeka yang ditindas oleh pihak militer atau pihak asing. Militer dan pihak asing yang disebut Truman jelas mengacu pada Uni Soviet. Penerapan Doktrin Truman sendiri ada pada Marshall Plan, yaitu bantuan yang diusulkan oleh George Marshall, menteri luar negeri pada masa Truman, kepada negara-negara yang membutuhkan, terutama negara-negara Eropa. Total dari Marshall Plan adalah sebanyak US$17 miliar bagi enam belas negara dalam periode empat tahun. Tujuan dari Marshall Plan sendiri adalah membantu negara-negara Eropa untuk merekonstruksi negaranya yang hancur karena Perang Dunia II, dan juga untuk membendung pengaruh Komunis. Hal itu dilakukan karena Komunis biasanya muncul dari keadaan miskin dan tidak stabil. Marshall Plan pertama diberikan kepada Yunani dan Turki sebanyak US$400 juta, karena terjadi pemberontakan yang diduga dilakukan oleh kaum Komunis. Setelah itu, Amerika Serikat juga berusaha agar Jerman tidak jatuh pada Uni Soviet, karena menurut Amerika Serikat bila Jerman jatuh maka akan menjadi awal jatuhnya Eropa pada Komunis. Saat itu Berlin, ibukota Jerman, dibagi empat, dengan dua kekuatan besar Amerika Serikat menguasai Berlin barat dan Uni Soviet menguasai Berlin timur.

           Untuk membendung pengaruh Komunis di seluruh dunia, Amerika Serikat membuat beberapa pakta pertahanan. Isi dari pakta itu kurang lebih adalah menciptakan persekutuan militer, dan bila satu negara diserang maka akan dianggap sebagai serangan ke seluruh negara. Pakta pertahanan itu adalah NATO di Eropa utara dan barat, SEATO di Asia Tenggara, METO di Timur Tengah, CENTO di negara dunia ketiga yang lain, dan ANZUS di Australia plus New Zealand. Uni Soviet juga menandinginya dengan Pakta Warsawa dan Comintern (Communist International). Adanya pakta pertahanan ini juga akhirnya membuat Amerika Serikat banyak terjun ke perang di segala penjuru dunia dalam misinya membendung Komunis, termasuk perang Korea, perang Vietnam, dan pengiriman pasukan Green Barret ke negara-negara dunia ketiga untuk melatih militer bagi orang-orang di negara tersebut.

      Untuk dalam negeri Amerika Serikat sendiri, Doktrin Truman terlihat dengan banyaknya sentimen anti Komunis dalam masyarakat Amerika Serikat. Presiden Eisenhower bahkan meminta gereja untuk mendampingi anak-anak muda di Amerika Serikat, dan ajaran-ajaran gereja saat itu banyak yang menyamakan Komunis dengan ateis, setan, kegelapan, dan segala hal yang buruk. Hal sama juga terjadi di sekolah, dimana banyak guru mengajarkan bahwa Komunis itu buruk, setan, kegelapan, menekankan bahwa di Rusia “pemimpin setan” berencana menyerang Amerika dengan senjata nuklir. Para siswa juga dajarkan untuk “tiarap dan berlindung” jika terjadi ledakan, bersumpah kepada bendera, dan diajarkan menjadi “warga negara yang baik.”. Bahkan pada era 1950an sempat ada film berjudul “I Led Three Lives” yang bercerita tentang seorang pengusaha Amerika yang menjadi agen CIA tapi juga anggota Partai Komunis. Film ini menggambarkan bagaimana cara komunis bekerja, bagaimana cara agen komunis melakukan pemberontakan. Ada juga sebuah acara di radio berjudul “I was a communist for FBI.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s