AKSI PANGGUNG BAND ROCK ERA 1970AN

RRRROOOOCCCCKKK!!!!

         Sebagai sebuah bentuk seni pertunjukan, pertunjukan musik rock memiliki gaya aksi tersendiri. Kebebasan dalam bermain musik yang bercorak rock terlihat ”menabrak” batasan-batasan umum, baik musik, lagu maupun gaya pertunjukannya. Aksi panggung para musisi Rock dekade 1970-an cenderung bersifat teatrikal. Jadi dalam suatu pertunjukan musik, pemusik tidak hanya menyuguhkan kepiawaian dalam bermusik saja, tetapi juga menampilkan aksi dan gaya panggung yang sejalan dengan aliran musiknya. Aksi dan gaya pertunjukan para musisi rock Indonesia banyak terinspirasi oleh aksi dan gaya panggung para musisi Barat. Sebagian grup musik Rock pada dekade 1970-an berlomba-lomba untuk tampil atraktif di atas panggung. Sebagai sumber referensi untuk gaya pertunjukan didapat melalui berbagai majalah musik terbitan Amerika atau Eropa, seperti majalah Music Express, Melody Maker, atau Pop Foto dan foto sampul Piringan Hitam. Piringan Hitam tidak sekadar menjadi acuan musikal tetapi juga menjadi inspirasi penampilan visual.

a. Aksi Panggung Grup Musik AKA                                                                                                                                                                              

AKA
Band AKA

                                                                                                                                                       
Gaya panggung musik rock di Indonesia sudah meniru grup musik Barat sejak kemunculannya pada akhir dekade 1960-an dan salah satu grup musik yang sering melakukan aksi “gila” dalam pertunjukan panggung musiknya adalah AKA. AKA dengan vokalisnya Ucok Harahap semenjak tahun 1969 sudah mulai memperlihatkan gaya-gaya yang sinting dan gila. Seperti yang pernah dilakukannya, ia membawakan permainan seolah-olah dirinya kesurupan dalam lagu yang berjudul Sex Machine. Ucok Harahap sering mendemonstrasikan atraksi-atraksi kesurupan dengan rela dicambuk badannya oleh algojo, menyanyi sambil berlari-lari, bermain organ sambil memanjat ke sana dan ke sini dan dimasukkan ke dalam peti mati sebagai pelengkap atraksi panggungnya.

Ucok AKA
Ucok Harahap, vokalis band AKA

Dalam pertunjukannya selama dua malam pada tanggal 9 dan 10 November 1973, AKA untuk pertama kalinya tampil dalam konser di TIM. Walaupun belum bisa disebut sebagai penampil musik bawah tanah yang sebenarnya, mereka memang sudah sepatutnya ditempatkan pada urutan pertama dalam deretan pemusik heavy rock and sound. Ucok AKA dalam pertunjukan di atas panggung menyambut para penonton cukup dengan sikap lengan ke atas, tanpa ada senyuman di wajahnya. Komunikasinya dengan penonton tidak begitu harmonis dan Ucok hanya memperlihatkan kebolehannya saja, di samping raut mukanya yang keras dan jarang sekali tersenyum Baginya tidak perlu berbasa-basi dan itu sudah merupakan prinsip Ucok untuk mendapatkan predikat disegani.
Dalam salah satu aksi pertunjukan musiknya, Ucok beraksi sambil membawa lagu yang berjudul Sex Machine, ia seakan-akan kesurupan dan memeragakan adegan bersenggama dengan salah satu alat musiknya. Kemudian dia keluar dari panggung, memanjat tembok dan ke atas genteng. Ketika muncul lagi di pentas, ia langsung membuka baju. Membiarkan dirinya “dihajar” dua algojo, kakinya diikat dan digantung. Setelah “ditusuk” dengan pedang, ia dimasukkan ke dalam peti mati. Di panggung ia mengenakan kostum semi-ketat. Mengenai tingkahnya di atas panggung Ucok Harahap tercatat sebagai yang paling “gila”. Ia sering kali muncul dengan goyangan-goyangan seperti seseorang yang sedang bersenggema, adegan menggantung diri atau masuk ke dalam peti mati.
Kejutan lain yang diperlihatkan oleh Ucok adalah ketika AKA bertemu Rollies di panggung Stadion Gelora 10 November pada tanggal 8 Juli 1972. Ketika Rollies membawakan lagu-lagu Gone Are The Song of Yesterday, I Had To Leave You, dan sebuah lagu dari Iron Butterfly berjudul A Gadda Da Vida, tiba-tiba seorang muncul dari kerumunan penonton menuju ke depan panggung sambil memegang tongkat. Penonton gemuruh dan bersorak karena orang itu adalah Ucok Harahap yang sengaja berada di antara penonton menyaksikan Rollies.
Tidak semua aksi panggung yang ditampilkan musisi rock mendapatkan respon positif dari penonton. Seperti dalam pertunjukannya di Malang, Ucok Harahap lagi-lagi mendemonstrasikan aksi adegan bersenggama. Do you know sex!, tanya Ucok beberapa kali kepada penonton. Kemudian ia mengeliatkan-geliatkan tubuhnya di lantai dan di atas organ, seperti orang yang sedang melakukan perbuatan senggama. Pertunjukkannya yang dinilai jorok itu tidak mendatangkan heboh di kalangan penonton. Begitu juga ketika mereka tampil di kota Tasikmalaya pada Juni 1972, di kota ini gaya panggung Ucok dan kawan-kawan tidak terlalu disukai oleh pecinta musik rock. Meskipun para penonton sempat meneriaki mereka, namun pertunjukan tidak berakhir dengan kerusuhan karena grup musik Rhapsodia, yang tampil sesudah mereka berhasil menjinakkan penonton dengan lagu-lagu ala Santana serta lagu-lagu lokal.
Peristiwa serupa kembali berulang ketika AKA tampil di Gedung Kridosono Yogyakarta pada Juni 1974 bersama grup Giant Step asal Bandung. Para penonton yang tidak suka melihat atraksi Ucok tidak dapat dibendung lagi. Mereka berteriak-teriak dan merusak gitar Arthur Kaunang. Ucok pun terkena lemparan kursi, dan kening Sunatha terluka parah akibat potongan kayu dan besi yang dilempar penonton. Ketiganya dirawat di RS Panti Rapih Yogyakarta.
Terkadang AKA tampil biasa saja dalam pertunjukan musiknya. Seperti saat tampil bareng dengan grup musik Ternchem asal Solo di Gelora Pancasila Surabaya pada Maret 1973. AKA membuat surprise di hadapan fans fanatiknya dengan tidak menonjolkan aksi-aksi yang eksentrik dan gila-gilaan seperti sebelumnya. Bahkan, pembawaan Ucok terlihat kaku, berbeda dari Arthur Kaunang (bass dan vokal) dan Sunatha Tanjung (leadguitar dan vokal) yang justru lincah bergaya dalam aksi panggungnya. Namun, aksi kalem Ucok ini ada latar belakangnya. Rupanya, Ucok seringkali mendapat surat teguran dari pihak berwenang dan acara tersebut dihadiri juga pejabat kepolisian setempat, namun lama kelamaan penonton merasa kecewa dengan sikap Ucok. AKA yang tampil biasa-biasa saja tanpa peti mati dan tiang gantungan diperlihatkan juga ketika mereka pentas di Taman Hiburan Rakyat Surabaya tahun 1975.

b. Aksi Panggung Grup Musik God Bless                                                                                                                                                    

GOD BLESS
GOD BLESS

                                                                                                                                                                  
Seperti grup musik AKA yang sering menggunakan peti mati dalam pertunjukan musiknya, dalam pementasannya di TIM pada tanggal 24 dan 25 Mei 1975, pada puncak acara God Bless menyuguhkan aksi teatrikal dengan dua buah peti mati. Diawali dengan bunyi lonceng besar, kemudian peti itu dibuka dan dua orang pria dan wanita yang didandani seperti layaknya sepasang mayat keluar serta bernyanyi dengan lagu yang berjudul nurlela dari penyanyi Bing Slamet dengan yang suara fals untuk menimbulkan kesan horor.
Waktu itu Ahmad Albar berkibar di atas panggung dengan membawakan lagu-lagu dari grup musik Deep Purple, Led Zeppelin, Kansas, dan Yes. Dalam pertunjukan panggungnya Ahmad Albar berbeda dari Ucok AKA. Ahmad Albar dalam pertunjukannya ramah menyambut setiap lambaian setiap penonoton yang ingin sekedar bersalaman, baik itu laki-laki maupun gadis, hingga nyaris ia seorang yang familiar dengan para penontonnya.
Hampir dalam setiap pertunjukan musiknya God Bless selalu menggunakan efek gelembung dan asap di panggung. Seperti dalam pertunjukannya untuk mengenang dua tokoh musik yang telah tiada (Fuad Hasan dan Soman Lubis) God Bless memulai pertunjukan dengan suara angin disertai kepulan asap dari belakang drum serta gelembung-gelembung sabun yang beterbangan dari kipas angin yang ada di atas pentas. Penggunaan Efek asap juga dilakukan pada pertunjukan God Bless di Padang. Begitu juga dengan pertunjukan musik God Bless di Yogyakarta yang juga menggunakan efek asap dan hampir kebanyakan lagu-lagu yang dibawakan dalam pertunjukan ini tergolong lagu-lagu berirama keras.
Selain mempelopori penggunaan efek asap di atas panggung, grup musik ini juga banyak melahirkan ide-ide baru yang sederhana di atas panggung, misalnya penggunaan lonceng besar yang diletakkan di belakang perangkat drum, pohon-pohon tiruan yang dibalut dengan timah yang memberikan suatu efek halusinasi yang berbau mistik.                                                                                                                                                                                                                                                            Kesimpulan:                                                                                                                                         Oleh para pemusik Rock era 1970an di Indonesia, pertunjukan panggungnya yang seperti teater dimaksudkan untuk menutupi kekurangan diatas panggung. Kekurangan itu bisa berupa teknologi (mengingat situasi jaman dimana teknologi suara belum sebaik sekarang), kekurangan dari para musisi sendiri, dan kekurangperhatian penonton karena tidak bias mendengarkan musiknya dengan jelas. Aksi panggung yang diperlihatkan para pemusik itu jelas bias menarik perhatian penonton dan menutup kekurangan yang lain karena aksinya yang tidak konvensional, dan cenderung berbau horror. Gaya mereka rata-rata seperti itu, horror, dengan peti mati, darah, dan kadang sadomasokis, lalu agar tidak terlalu brutal, hal itu dibungkus dengan konsep teaterikal yang baik dan masuk dengan pertunjukan yang ditampilkan.

4 thoughts on “AKSI PANGGUNG BAND ROCK ERA 1970AN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s