MASUKNYA ROCK ‘N ROLL KE INDONESIA

Band Pegangsaan
Bung Karno ngeband saat pembacaan Proklamasi?

A. Apa itu Rock ‘n’ Roll?                                                                                                                                                                                                 

Seperti yang sudah sering disebutkan, Rock ‘n’ Roll pertama diputar oleh DJ Alan Freed lewat siaran radionya di Cleveland. Sebenarnya, Rock ‘n’ Roll adalah musik R’nB (Rythym and Blues) yang dimainkan oleh kulit hitam. Untuk menolak stigma rasial dari R’nB, maka Freed mengganti namanya menjadi Rock ‘n’ Roll agar dapat diterima oleh penikmat musik dari kulit putih. Perkembangan Rock ‘n’ Roll juga tidak lepas dari migrasi orang kulit hitam ke kota-kota besar di Amerika Serikat bagian utara, seperti New York, Chicago, Detroit, dan sebagainya pasca Perang Dunia 2. Orang kulit hitam juga membawa budayanya, termasuk musik R’nB yang akhirnya mengenalkan orang kulit putih terhadap R’nB.

Rock ‘n’ Roll mulai naik saat saluran FM sudah dibuka dan peran radio digeser oleh televisi. Peran radio saat itu juga hanya menjadi sebuah jukebox, sebuah alat untuk memutar musik, dan dengan digesernya peran radio oleh televisi maka radio harus mencari spesialisasi. Spesialisasi itu dalam hal pendengar, dan akhirnya memunculkan stasiun radio yang khusus memutarkan musik kulit hitam, sehingga memunculkan istilah “Negro radio.” Saluran FM yang banyak juga memungkinkan pendengarnya untuk mendengarkan musik yang merekan inginkan. Harga radio yang murah dan bentuk fisiknya yang kecil juga membuat radio bisa dimiliki secara perorangan, dan hal itu memungkinkan remaja kulit putih di Amerika Serikat mendengarkan musik R’nB atau Rock ‘n’ Roll.

Selain radio, ada satu orang yang membantu rock ‘n roll menjadi populer di Amerika Serikat, yaitu Sam Phillips dan Elvis Presley. Sam Phillips adalah pemilik perusahaan rekaman bernama Sun Record di Memphis, dan Elvis Presley aalah orang kulit putih pertama yang menyanyikan lagu-lagu rock ‘n roll. Selama era 1950an, Sun Record memproduksi rekaman-rekaman dari pemusik yang akhirnya menjadi legenda, seperti Carl Perkins, Charley Rick, Johnny Cash, Jerry Lee Lewis, dan Elvis Presley, dan Sam Phillips berhasil memasarkan rekaman-rekaman itu dengan baik, dan Phillips juga berharap “bisa menghancurkan barikade lama yang membedakan antara musik kulit hitam dan kulit putih.”

Elvis Presley dikenal dalam sejarah Amerika Serikat sebagai orang kulit putih pertama yang memainkan musik Rock ‘n’ Roll. Single pertama dari Elvis Presley adalah Heartbreak Hotel, keluar pada tahun 1956. Setelahnya ada Jerry Lee Lewis, juga berkulit putih, yang populer dengan lagu “Rock Around The Clock.” Elvis dan penyanyi rock lainnya menunjukkan bahwa musik kulit hitam juga digemari oleh orang kulit putih. Kemunculan Elvis Presley ini juga mempengaruhi anak muda untuk bermain musik Rock. Pengaruhnya bahkan sampai di Inggris, bahkan salah satu anggota The Beatles, yaitu John Lennon, menyatakan Elvis sebagai idola terbesarnya.

Efek lain dari kemunculan Elvis Presley adalah berani tampilnya pemusik Rock ‘n roll berkulit hitam. Salah satunya adalah Chuck Berry. Sebelum Elvis tampil, Chuck Berry sudah lebih dulu ada. Dengan tampilnya Elvis, hal itu memancing anak muda kulit putih Amerika Serikat untuk mencari pemusik Rock ‘n’ Roll lainnya. Dengan adanya atensi besar dari anak muda kulit putih Amerika Serikat itu muncullah pemusik kulit hitam yang selama ini kurang begitu terekspos, seperti Chuck Berry.

Secara garis besar, musik Rock ‘n’ Roll diterima oleh banyak anak muda di Amerika Serikat. Kaum muda menganggap Rock ‘n’ Roll sebagai sesuatu yang unik, mengajarkan bagaimana menari, bagaimana berbusana, bagaimana berbicara, bahkan bagaimana berpacaran. Hal itu disebabkan oleh semangat jaman yang ada, dimana banyak anak muda yang bosan dengan kemapanan yang ada dan mendapatkan Rock ‘n’ Roll sebagai sesuatu yang unik. Selain itu munculnya pemusik Rock ‘n’ Roll dari kalangan kulit putih sendiri memberanikan anak muda di Amerika Serikat, khususnya kulit putih, berani keluar dari kekangan orang tua mereka dan mendengarkan serta memainkan musik Rock ‘n’ Roll.

B. Bagaimana masuknya Rock ‘n’ Roll ke Indonesia?

Pasca terjadinya penyerahan kedaulatan Indonesia dari Belanda pada 28 Desember 1949, maka masyarakat Indonesia mengalami kemerdekaan penuh. Salah satu bentuk kemerdekaan itu adalah kemerdekaan dalam mendapatkan hiburan, termasuk hiburan yang mendapat pengaruh dari barat. Dari sinilah masyarakat Indonesia bisa mendapatkan kesempatan menonton film-film barat di bioskop dan mendengarkan lagu-lagu barat lewat siaran RRI.

Musik-musik barat yang sedang populer pada masa itu adalah musik dari Amerika Serikat. Sebelum adanya Rock ‘n’ Roll, di Amerika Serikat berkembang musik jazz dengan ikonnya, Frank Sinatra. Selain Frank Sinatra juga ada beberapa penyanyi barat lain yang terkenal, yaitu Perry Como, Louis Armstrong, dan Bing Crosby. Musik-musik dari barat ini masuk lewat dua cara ke Indonesia, yaitu melalui film-film barat dan melalui rekaman-rekaman dalam bentuk piringan hitam. Piringan hitam itu sendiri masuk ke Indonesia melalui para diplomat, pramugari, dan pengusaha. Sementara itu juga musik-musik dari barat itu juga diputar oleh RRI, sehingga masyarakat Indonesia yang lain bisa menikmati.

Sementara itu, musik-musik barat juga masuk lewat film karena kebetulan genre film yang disukai masyarakat Indonesia adalah yang musikal. Melalui film-film dengan genre musikal inilah masyarakat Indonesia juga mengetahui musik-musik yang sedang populer di luar negeri. Salah satu film yang paling populer saat itu adalah the Desert Song produksi Warner Brothers tahun 1951. Puncaknya sendiri terjadi saat masuknya film Blackboard Jungle masuk di Indonesia pada tahun 1955. Dalam film Blackboard Jungle terdapat lagu Rock Around The Clock, yang merupakan lagu Rock ‘n’ Roll pertama yang masuk ke Indonesia.

Film Blackboard Jungle sendiri merupakan film pertama yang menggunakan lagu Rock ‘n’ Roll sebagai soundtracknya. Lau Roxk around The Clock ini sendiri dbawakan oleh Bill Haley and The Comets, yang merupakan sebuah band Rock ‘n’ Roll di Amerika Serikat. Di negara asalnya sendiri, Amerika Serikat, film Blackboard Jungle ini sendiri mendapat tentangan tersendiri karena isi filmnya yang menunjukkan suatu kekacauan dalam ruangan kelas setelah lagu Rock Around The Clock diputarkan. Oleh media, film ini dikatakan menggambarkan konflik antar generasi di Amerika Serikat sendiri, dimana generasi mudanya memberontak terhadap nilai-nilai konservatif dari generasi tuanya.

C. Respon Masyarakat Terhadap Rock ‘n’ Roll

Respon yang didapat dari Rock ‘n’ Roll di Indonesia kurang lebih sama seperti di Amerika Serikat. Bagi generasi muda, musik ini diterima dan menjadi sebuah histeria tersendiri. Bagi generasi tua, termasuk pemerintah, musik ini dikecam oleh para kritikus dan membuat presiden Soekarno geram. Beberapa kebijakan presidedn Soekarno nanti saat terjadinya Demokrasi Terpimpin juga menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Rock ‘n’ Roll.

Bagi generasi muda, musik Rock ‘n’ Roll ini sendiri membuat mereka meninggalkan musik populer yang ada sebelumnya. Jika dulu para generasi muda meminta lagu-lagu dari Frank Sinatra, Perry Como, Louis Armstrong, dan Bing Crosby untuk diputar, maka setelah lagu Rock Around The Clock masuk ke Indonesia, mereka lebih memilih untuk minta diputarkan lagu-lagu Rock ‘n’ Roll. Apalagi setelah munculnya Elvis Presley yang lebih tampan dan membuat Rock ‘n’ Roll menjadi lebih populer, maka makin banyaklah generasi muda di indonesia yang membuat Rock ‘n’ Roll menjadi gaya hidupnya.

Sedangkan bagi generasi tua, musik Rock ‘n’ Roll sendiri menimbulkan kecemasan. Kecemasan sama yang juga dialami generasi tua di Amerika Serikat. Jika di Amerika Serikat kecemasan itu tentang ketakutan kalau musik Rock ‘n’ Roll bisa mengancam nilai-nilai budaya yang sudah mapan, maka kalau di Indonesia adalah kecemasan bahwa Rock ‘n’ Roll adalah cerminan dari imperialisme barat yang dapat merusak budaya nasional. Kecaman dari presiden Soekarno dilontarkan dalam pidatonya pada 17 Agustus 1959 yang isinya:

Dan engkau, hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, enkau yang tentunya anti imperialisme ekonomi dan menentang imperialisme ekonomi, engkau yang menentang imperialisme politik. Kenapa di kalangan engkau banyak yang tidak menentang imperialisme kebudayaan? Kenapa di kalangan engkau masih banyak yang rock ‘n’ roll-rock ‘n’ roll-an, dansa-dansa ala cha-cha musik yang ngak ngik ngek….

Pidato ini sendiri nantinya menjadi pembukaan dari Manipol, yang menjadi landasan bernegara pada masa demokrasi terpimpin.

3 thoughts on “MASUKNYA ROCK ‘N ROLL KE INDONESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s