MAX HAVELAAR SEBAGAI BENTUK KOMUNIKASI POLITIK

Max Havelaar
Max Havelaar 5th edition, 1881

Secara umum, Max Havelaar merupakan sebuah novel yang ditulis oleh Eduard Douwes Dekker yang memakai nama pena Multatuli. Novel ini ditulis sebagai pandangannya atas kekejaman praktek Cultuur Stelsel Belanda di Lebak Banten, Hindia Belanda. Lewat novel ini, Douwes Dekker menyatakan kecamannya terhadap praktek penindasan yang dilakukan oleh kepala pemerintahan Bumiputera sendiri yang memeras rakyatnya untuk kepentingan mereka sendiri. Novel ini sendiri akhirnya membuka mata penduduk Belanda khususnya dan Eropa pada umumnya, sehingga Cultuur Stelsel sendiri akhirnya perlahan-lahan dihapuskan dan Politik Etis yang diperjuangkan kaum Liberal di Belanda bangkit.

 Untuk latar belakang jamannya, keadaan di Hindia Belanda pada abad 19 umumnya didominasi oleh praktek Cultuur Stelsel yang dimulai tahun 1830 oleh Gubernur Jenderal Van Den Bosch. Cultuur Stelsel ini dilakukan karena Belanda sendiri baru saja menjalani perang melawan Napoleon dari Prancis, sehingga kas negara kosong, dan praktek Cultuur Stelsel ini dianggap bisa mengisi kas negara dengan cepat. Pelaksanaan Cultuur Stelsel sendiri adalah setiap desa harus menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor khususnya kopi, tebu, nila. Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan (20%) dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Untuk para mandornya, jika tempat yang dijaganya memiliki hasil panen lebih maka akan ada bonus untuk mereka (Cultuur Procenten). Sistem bonus inilah yang nantinya menjadi maslah dari Cultuur Stelsel, dimana para mandornya, yang kebanyakan adalah para bupati pribumi berusaha agar hasil panen di tempatnya berlebih, sehingga yang ada adalah jam kerja bagi para penggarapnya ditambah, melebihi waktu yang ada dalam peraturan. Yang terjadi berikutnya adalah penderitaan bagi rakyat penggarapnya yang harus kerja sangat lama di kebun pemerintah dan kebun rakyat penggarapnya menjadi terlantar.

 Douwes Dekker sendiri sebelumnya adalah seorang Belanda yang menjadi pegawai pemerintah dan ditugaskan di Hindia Belanda. Dia tiba di Hindia Belanda pada tahun 1838 dan mendapat pekerjaan di daerah Sumatra Barat, lalu berpindah ke kota Natal, lalu ke Ambon. Di Ambon, dia mengundurkan diri karena gubernur Maluku sangat berkuasa, sehingga bawahannya, termasuk dia, tidak bisa melakukan inisiatif apa-apa. Pada bulan Januari 1856 Douwes Dekker dipindahtugaskan di daerah Lebak, Banten. Di daerah Lebak inilah Douwes Dekker menemukan bahwa bupati Lebak sangat berkuasa dan menyuruh rakyatnya untuk melakukan pekerjaan melebihi jam yang diharuskan dan bahkan meminta hasil panen dan ternak dari rakyatnya. Selain itu Douwes Dekker juga menemukan bahwa keluarga bupati itu sudah berkuasa selama 30 tahun dan selama itu praktek pemerasan itu dilakukan. Douwes Dekker melaporkan praktek itu, tapi tidak ditanggapi oleh atasannya, dan yang ada malah ancaman pembunuhan terhadap dia. Akhirnya Douwes Dekker mengundurkan diri dan kembali ke Eropa. Selama di Eropa itulah pada bulan September 1859 Douwes Dekker mulai membuat novel Max Havelaar yang akhirnya terbit tahun 1860.

Pada awal penerbitannya, novel Max Havelaar ini menimbulkan kegemparan di kalangan masyarakat Belanda sendiri, dimana novel ini membuka mata masyarakat Eropa atas praktek Cultuur Stelsel di Hindia Belanda. Novel ini mendapat sambutan positif, terutama oleh kaum liberal Belanda yang memperjuangkan Politik Etis, sementara novel ini juga mendapat kritik karena penggambarannya yang dianggap berlebihan.

 

Dari pemaparan yang ada, maka komunikasi politik dari Max Havelaar bisa dilihat sebagai berikut. Pengirim pesannya adalah Douwes Dekker sendiri lewat novelnya, Max Havelaar. Pesannya adalah bagaimana praktek dari sistem Cultuur Stelsel yang kejam walau menghasilkan banyak keuntungan untuk negeri Belanda. Sebenarnya pesan ini ditujukan bagi siapapun yang membaca, tapi dalam hal ini yang memberikan respon baik adalah dari kalangan liberal yang akhirnya mengusulkan ide tentang politik etis. Sehingga bila dilihat lagi maka efek dari novel Max Havelaar ini adalah mengubah pola pikir pembacanya, lalu umpan baliknya adalah adanya usulan tentang politik etis dari kaum liberal yang akhirnya membuat pribumi di Hindia Belanda mendapat Edukasi, Irigasi, dan Transmigrasi.

Douwess Dekker
Ini dia fotonya Douwess Dekker

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s