ROCK ‘N ROLL DAN DEMOKRASI TERPIMPIN

A. Respon Demokrasi Terpimpin Terhadap Rock ‘n Roll

presiden-soekarno
Soekarno,Putra Sang Fajar

Kebijakan Demokrasi Terpimpin dari Presiden Soekarno tidak hanya di bidang politik, tapi juga di bidang-bidang lain, termasuk kebudayaan. Semua bidang dalam kebudayaan yang bertentangan dengan cita-cita revolusi Indonesia berusaha dihapuskan oleh Presiden Soekarno, dan pemerintah sendiri juga menginstruksikan semua elemen masyarakat untuk mendukung Manipol. Rock ‘n Roll, yang menurut presiden Soekarno merupakan cerminan dari imperialisme barat yang dapat merusak budaya nasional, juga tidak lepas dari kejaran Manipol.

Untuk menjerat kebudayaan yang tidak sesuai dengan cita-cita revolusi Indoneia, dikeluarkanlah ketetapan MPRS NO.II/MPRS/1960 pasal 2 ayat 2 yang berbunyi “melaksanakan Manifesto Politik di lapangan pembinaan mental/agama/kerohanian dan kebudayaan dengan menjamin syarat-syarat spiritual dan material agar setiap warganegara dapat mengembangkan kepribadian dan kebudayaan nasional Indonesia serta menolak pengaruh buruk budaya asing.” Keluarnya ketetapan ini dijadikan dasar hukum bagi pemerintah untuk menindak musik Rock ‘n Roll, dimana sudah dicap sebagai pengaruh buruk budaya luar yang dapat merusak budaya nasional, yaitu dengan merusak mental anak muda.

Ketetapan itu langsung direspon oleh media di Indonesia. RRI, sebagai radio nasional yang dulu memutarkan lagu-lagu Rock ‘n’ Roll, sejak pertengahan Oktober 1959 sudah tidak lagi menyiarkan musik-musik Rock ‘n’ Roll lagi, bahkan piringan hitam Elvis Presley dikeluarkan dari koleksi RRI dan dibakar didepan umum. Selain itu RRI juga mengeluarkan enam ciri musik yang merusak pada tahun 1963, yaitu:

  1. Dalam hal siaran untuk anak-anak, lagu dan cara pembawaannya tidak musik yang disebut drive rythim music, yaitu musik dengan irama kegila-gilaan yang menimbulkan perasaan liar tak terkendali.

  2. Lagu-lagu dengan pembawaan tidak wajar, umpamanya seperti orang menangis atau berteriak.

  3. Musik sec dream dan melamun yang dimaksud untuk menyampaikan rasa asmara yang sentimentil

  4. Musik dengan aransemen yang terlalu dibuat-buat, menyimpang dari maksud dan isinya sehingga melampaui batas-batas norma yang wajar.

  5. Musik dengan teks yang tidak sehat dan tidak membangun.

  6. Bertentangan dengan alam pembawaan anak-anak.

Sementara itu dari media cetak sendiri, mereka tidak lagi memuat berita tentang Elvis Presley ataupun tentang musik Rock ‘n Roll, sehingga para penggemarnya kehilangan jejak dari artis idola mereka.

Sementara itu pemerintah daerah juga mengeluarkan respon serupa terhadap ketetapan tadi. Pemerintah daerah kota Bandung mengeluarkan undang-undang yang melarang untuk berhulla-hoop, jitterbug, dan Rock ‘n Roll, serta tarian yang menyerupai tarian tersebut di jalan raya atau tempat-tempat umum. Pelanggaran terhadap peraturan tersebut akan dikenakan sangsi kurungan badan selama satu bulan atau denda seratus rupiah serta penyitaan alat musik.

B. Respon Pemuda Terhadap Demokrasi Terpimpin

KOESWOJO BROTHER
KOESWOJO BROTHER

Respon dari generasi muda terhadap Manipol cukup beragam. Diantara mereka, ada yang berusaha mengikuti, ada yang berusaha mengakali, ada juga yang masa bodoh walau akhirnya mereka nanti ditindak juga oleh pemerintah. Diantara mereka yang bersikap masa bodoh adalah Koes Bersaudara adalah yang paling kontroversial, karena mereka sudah terkenal sebagai grup band yang sering membawakan lagu-lagu Rock ‘n Roll.

Banyak musisi di Indonesia yang mengakali ketetapan dan peraturan lain yang muncul sesudahnya. Mereka memulai dengan berpaling ke lagu-lagu daerah. Lagu-lagu daerah itu mereka akali dengan cara dibawakan dengan memakai gaya Rock ‘n’ Roll, dan lagu yang paling populer deengan cara ini adalah Bengawan Solo. Penyanyi yang lain juga ada yang membawakan lagu-lagu daerah itu dengan aransemen aslinya, seperi Kris Biantoro yang membawakan lagu-lagu pop Jawa. Selain itu diantara mereka ada juga yang mengganti namanya yang kebarat-baratan menjadi nama yang “Indonesia”, contohnya adalah Jack Lemmers yang mengganti namanya menjadi Jack Lesmana.

Koes Bersaudara merupakan salah satu grup musik yang tidak begitu peduli terhadap ketetapan dan peraturan daerah yang menyusul sesudahnya. Grup Koes Bersaudara ini terdiri dari Koeswojo bersaudara, yaitu John, Tonny, Nomo, Yon, dan Yok. Dari awal, mereka memang sudah memainkan musik Rock ‘n’ Roll, bahkan menciptakan lagu-lagu mereka sendiri sambil diselingi membawakan lagu dari pemusik Rock ‘n Roll luar negeri setiap kali mereka mengadakan pertunjukan. Musik mereka sebelum keluarnya ketetapan itu juga sudah dikenal umum, bahkan lagu-lagunya sudah sering diputar di RRI dan Radio AURI, hal itulah yang membuat stigma mereka sebagai pemusik Rock ‘n Roll sangat kencang.

Pemerintah sendiri melihat Koes Bersaudara sebagai kelompok yang tidak kooperatif dengan mereka, sehingga pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap mereka. Di berbagai kota, piringan hitam Koes Bersaudara dirampas oleh aparat keamanan, lalu disebar di tengah jalan, dihancurkan, dan dibakar bersama buku-buku sastra dan majalah-majalah Amerika. Pada Kamis 1 Juli 1965, sepasukan tentara dari Komando Operasi Tertinggi (KOTI) menangkap kakak beradik Tony, Yon, dan Yok Koeswoyo dan mengurung mereka di LP Glodok, kemudian Nomo Koeswoyo atas kesadaran sendiri, datang menyusul. Adapun kesalahan mereka adalah karena selalu memainkan lagu-lagu The Beatles yang dianggap meracuni jiwa generasi muda saat itu. Koes Bersaudara sendiri akhirnya dibebaskan pada 29 September 1965.

 Untuk para generasi muda lain, mereka banyak yang tidak percaya pada pemerintah bahwa musik Rock ‘n Roll dan tari-tarian yang berasal dari barat dapat merusak mental mereka. Mereka juga tidak percaya bahwa hal itu merupakan bentuk imperialisme barat. Yang mereka tahu adalah Rock ‘n Roll merupakan musik populer terbaru yang sedang terkenal di dunia. Oleh karena itu, mereka tetap berusaha mendengarkan musik Rock ‘n Roll dengan cara menyelundupkan piringan hitam album populer barat dan mendengarkan siaran radio-radio luar negeri seperti BBC dan ABC. Hal ini pada akhirnya membuat musik pop menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintah di Indonesia.

C. Penutup

  Sesuatu bila ditekan, maka dia akan menekan balik. Hal inilah yang terjadi di akhir masa pemerintahan Presiden Soekarno pada tahun 1965. Tekanan yang beliau berikan pada musik Rock ‘n Roll pada masa demokrasi terpimpin balik menekan Presiden Soekarno disaat dia terdesak. Para demonstran, yang sebagian besar mahasiswa, juga menyanyikan lagu-lagu Rock ‘n Roll sebagai simbol perlawanan mereka terhadap presiden Soekarno.

Koes Bersaudara, yang dipenjara pada masa demokrasi terpimpin dari presiden Soekarno menjadi simbol perlawanan dari kalangan generasi muda. Koes Bersaudara, belum lama setelah dibebaskan dari penjara, masuk studio rekaman dan mengeluarkan album To Be Called The Guilties yang berisi lagu-lagu Rock ‘n Roll mereka yang berani pada tahun 1967. Kemunculan kembali mereka dengan lagu-lagu Rock ‘n Roll yang berani itu membuat mereka menjadi simbol perlawanan, karena lagu-lagu mereka yang berani dan tidak berisi puja-puji terhadap para pemimpin yang korup.

KoesBersaudaraGuiltiesLP
To Be Called The Guilties

Pada akhirnya, Koes Bersaudara, yang sempat berganti nama menjadi Koes Plus, menjadi ukuran sukses bagi pemusik-pemusik Indonesia generasi selanjutnya. Mereka tetap membawakan musik Rock ‘n’ Roll yang akhirnya mencapai puncaknya di Indonesia pada era 1970an. Walau pada akhirnya di era 1980an Koes Plus kalah bersaing dengan band-band baru, mereka tetap membuktikan Rock ‘n’ Roll merupakan musik perlawanan dari awal keberadaannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s