PROGRESSIVISM : KEKECEWAAN MASYARAKAT KELAS MENENGAH

anakbaca
PROGRESIF!!

Imbas dari berkembangnya industri secara besar-besaran di Amerika Serikat adalah munculnya kaum progresivisme. Oleh para ahli, kemunculan kaum progresivisme sama seperti periode setelah perang revolusi tahun 1812 dan pada tahun 1850an, dimana pemuda-pemuda yang bersemangat tapi kurang hati-hati mengambil alih kekuasaan. Sebagai contoh, adalah Joseph Medill Patterson, yang saat berusia 24 tahun memenangkan kursi di dewan legislatif Illinois melalui pidatonya yang menganjurkan supaya semua fasilitss kota di negara bagian Illinois dikuasai pemerintah kota. Dua tahun kemudian Patterson mengundurkan diri dan menjadi sosialis, karena menurutnya keadaan kota dan negara tidak mungkin diperbaiki selama negara dibawah rezim kapitalisme. Tahun 1906 Patterson menerbitkan kecaman terhadap kekayaan dengan judul “The Confession of a Drone” (Pengakuan Seorang Lebah Jantan), lalu dua tahun kemudian dia menulis buku dengan nada yang sama.

Siapakah itu kaum progresif? Seperti disebutkan di awal, kaum progresif adalah orang-orang muda. Mereka kebanyakan berasal dari golongan menengah yang kuat. Sebagian dari mereka mencapai kelas itu dengan usaha mereka sendiri dan sebagian lagi merupakan keturunan dari keluarga kaya (du Pont, Crane, Spreckels, Dodge, Morgenthau, Pinchot, Perkins, McCormick, dan termasuk Patterson). Jika melihat status sosial mereka, sudah jelas mereka adalah lulusan perguruan tinggi, atau setidaknya pernah mencicipi belajar di perguruan tinggi, dan 50% dari mereka adalah lulusan perguruan tinggi elit (Harvard, Princeton, dan Yale). Posisi mereka di masyarakat juga posisi khas kelas menengah, yaitu pengusaha, ahli hukum, editor surat kabar, bankir, dokter, dan pengusaha real estate. Kaum progresif juga berasal dari dua partai besar, Demokrat dan Republik, dan kebanyakan dari mereka adalah kaum konservatif yang akhirnya menjadi sosialis, seperti Patterson.

Jika melihat dari tujuan mereka, bisa dibilang inti pemikiran kaum progresif berasal dari kaum populis. Kebijakan-kebijakan kaum progresif mengambil dari kaum populis dan kaum progresif juga menambahkan program-program mereka sendiri. Beda progresif dengan populis hanya satu, yaitu kaum populis bertindak karena putus asa dengan depresi yang melanda mereka, sehingga motivasinya adalah karena perut, sedangkan kaum progresif bertindak karena keprihatinan terhadap situasi sosial dan ekonomi menjelang pergantian abad, dan suasana abad intelektual dan etik, sehingga kaum progresif bertindak karena digerakkan oleh hati dan kepala.

Hal lain yang dikemukakan oleh kaum progresif adalah kebenciannya terhadap kota. Hal itu berkaitan dengan kebenciannya terhadap kapitalis, yang memang berada di kota. Mereka memandang kota akan “menyedot pemuda yang murni, kuat, dan sederhana dari tanah pertanian. Di kota, jika mereka beruntung maka mereka akan menjadi kaya dan memperoleh uang dari perusahaan-perusahaan legal dan manusia lain, jika tidak mereka akan tetap menjadi buruh dan yang paling celaka menjadi sampah masyarakat.” Suasana itu bisa ditangkap dari karya sastra dan intelektual pada jaman itu yang banyak dipengaruhi oleh kaum progresif.

Selain oleh kapitalis, kebencian kaum progresif juga dikarenakan hampir semua penduduk kota adalah orang asing. Jika sebelumnya banyak imigran yang berasal dari Eropa barat, kali ini imigran lebih banyak yang berasal dari Eropa Selatan. Oleh Jack London, mereka disebut “mahluk-mahluk berpigmen gelap, blasteran, anak haram, dan keturunan bangsa yang sudah lama ditaklukkan.” Sebenarnya kaum progresif tidak banyak yang mempermasalahkan ini, tapi tetap saja mereka merasa tidak senang dengan hal ini.

Beberapa pemimpin progesif, seperti William Jennings Bryan dan Golden Rule Jones, memandang dirinya sebagai abdi dan pembela rakyat, tapi anehnya kebanyakan dari mereka memisahkan diri dari masa rakyat. Woodrow Wilson berpendapat bahwa pemerintahan yang efisien hanya dapat dilakukan oleh “sekelompok orang-orang lapisan terpelajar”, William Kent mengatakan “kemajuan tidak berasal dari bawah”, dan Roosevelt sering mengatakan “pemerintahan sebagai proses memberikan keadilan dari atas.” Hal ini nanti akan menimbulkan paradoks dalam pemikiran kaum progresif mengenai kekayaan, dimana ditakutkan akan ada serangan terhadap hak milik. Hal ini juga yang akhirnya membuat kaum progresif berselisih deengan kaum buruh yang notabene dibelanya.

 Bagi kebanyakan tokoh profesional kelas menengah, serikat buruh adalah semacam monopoli yang didirikan dan mempunyai akibat yang sama dengan monopoli industri pada umumnya. Mereka juga menuduh serikat buruh membatasi produksi, menyempitkan pasaran tenaga kerja, dan menaikkan upah secara tidak wajar seperti perseroan yang membatasi produksi, menciutkan kompetisi, dan menaikkan keuntungan pengusaha. Para buruh sendiri membentuk serikat karena kesulitan ekonomi yang mereka hadapi. Ada beberapa tokoh reformis yang menyambut baik berdirinya serikat buruh sebagai kemajuan demokrasi, tapi walau ingin melihat perbaikan nasib buruh perorangan, kaum progresif lebih membenci serikat buruh daripada perserikatan pengusaha monopoli. Jika harus memilih, maka kaum reformis lebih memilih yang ekonominya kuat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s