BATAVIA: ANTARA KOTA DAN MENTENG (1)

BATAVIA
The map of Old City Batavia

Batavia, atau kita kenal dengan nama Jakarta sekarang, pernah mendapat julukan sebagai Koningin Van het Ooosten atau Ratu dari Timur pada abad 18. Namun, pada abad 19, Batavia mendapat julukan sebagai Graf der Hollanders atau Kuburan Orang Belanda. Mengapa demikian? Keadaan lingkungan yang buruk, tata nkota yang buruk, dan penyebaran penyakit telah membuat banyak orang Eropa, khususnya Belanda, harus mengakhiri hidupnya di Batavia. Keadaan itu membuat Gubernur Jenderal Belanda (tapi diperintah Prancis) tahun 1811, Herman Willem Daendels memindahkan pusat pemerintahan dari Kota ke daerah Weltevreden, yang sekarang kita kenal dengan nama Menteng.

Artikel Batavia: Antara Kota dan Menteng (1) ini akan membahas mengapa Daendels mengambil keputusan memindahkan pusat pemerintahan dari Kota ke Menteng. artikel ini akan dilanjutkan dengan artikel Batavia: Antara Kota dan Menteng (2) yang akan membahas tentang dampak perpindahan pusat pemerintahan dari Kota ke Menteng.

Silakan dinikmati.

A. KEADAAN LINGKUNGAN YANG BURUK

Sejak kota Batavia didirikan pada tahun 1619 oleh Jan Pieterzoon Coen, sebagian besar wilayah Batavia merupakan daerah yang berawa-rawa dengan keadaan tanah yang lebih rendah dari pada daerah pesisir. Di sepanjang daerah pantai ini terdapat berbagai macam kotoran yang berasal dari laut yang terdampar ke daerah pesisir, seperti kerang-kerangan, ikan-ikan mati, lumpur dan lumut yang membusuk dengan cepat karena suhu udara yang sangat panas. Kumpulan lumpur dan pembusukan ini bertambah drastis selama musim angin barat, dimana angin membawa uap-uap tidak sehat ini ke dalam kota. Hal ini diperparah oleh keadaan kanal-kanal yang sudah tidak mengalir lagi. Ketika musim panas datang kanal-kanal ini mengeluarkan bau busuk, dan ketika musim hujan tempat-tempat penampungan yang berisi air tercemar itu akan meluap ke wilayah bagian kota yang rendah dan menggenangi tingkat bawah rumah-rumah. Genangan air itu sendiri akan meninggalkan sejumlah lumpur dan kotoran.

Walaupun terkadang kanal-kanal ini dibersihkan, namun pembersihan tersebut tetap meninggalkan masalah, yaitu lumpur pekat yang dibiarkan saja mengendap di pinggiran kanal. Lumpur-lumpur tersebut merupakan kotoran penduduk yang setiap pagi buang air ke sungai, karena pada saat itu keberadaan fasilitas pembuangan air umum sangat jarang di seluruh kota. Lumpur itu akan berubah menjadi padat dan mengeras, sehingga lumpur tersebut tidak dapat diangkut keluar dengan perahu. Udara juga ikut menjadi tercemar akibat proses pengeringan kotoran tersebut. Tingkat pencemaran ini juga diperparah dengan tindakan dari para penduduk pribumi yang membuang bangkai hewan, seperti babi dan kuda, ke dalam sungai yang dangkal. Bangkai-bangkai tersebut pun dibiarkan saja terdampar dan terbengkalai hingga membusuk.

B. KEADAAN TATA RUANG KOTA YANG BURUK

Pembangunan kota Batavia oleh Belanda dilakukan dengan meniru kota-kota di Belanda pada abad pertengahan. Hal itu terlihat dengan adanya benteng dan banyaknya kanal yang terdapat di Batavia. Hal ini dilakukan dengan maksud mengingatkan orang Belanda terhadap kampung halaman mereka agar mereka betah dan nyaman tinggal di Batavia. Perkembangan kota Batavia ini dimulai dengan pembuatan kanal-kanal yang menjadi penghubung dan pemersatu dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya untuk mendukung interaksi di antara penduduk Batavia. Pembuatan kanal-kanal ini juga disesuaikan dengan dengan keadaan lingkungan Batavia yang merupakan dataran rendah berawa-rawa dan sering terkena banjir. Pembuatan kanal ini dimulai dari sungai Ciliwung. Pembuatan kanal ini dilakukan dengan dua cara yaitu meluruskan aliran sungai Ciliwung yang pada saat itu dalam keadaan yang berkelok-kelok, dan melakukan pencabangan kali besar menjadi dua bagian atau lebih.

Dengan adanya sarana tersebut maka perkembangan pemukiman pun menjadi cepat meluas seiring dengan semakin meluasnya jaringan kanal tersebut. Pemukiman pada saat itu sebagian besar berada di sekitar aliran sungai atau kanal. Dengan berkembangnya berbagai pemukiman di daerah sekitar kanal ini maka mulailah bermunculan pasar-pasar disekitar aliran kanal tersebut dan menggerakkan roda perekonomian di sekitar daerah tersebut. Semenjak berdirinya pasar-pasar dan pemukiman di sekitar aliran kanal ini maka semenjak itu pun kota Batavia mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Namun keadaan ini juga tidak berlangsung lama. Pada akhir abad ke-18 VOC mengalami kebangkrutan dan secara perlahan kota Batavia pun mengalami mengalami kemunduran. Kebangkrutan VOC ini membawa dampak buruk ke berbagai aspek, salah satunya adalah perkembangan dan tata ruang kota Batavia. Kemunduran ini membuat kota Batavia dan sarananya menjadi tidak terurus dengan baik, diantaranya adalah sistem kanal yang tidak terurus dengan baik. Sistem kanal yang tidak terurus ini tidak bisa mengelola perairan lagi karena adanya air pasang yang membawa pasir dari laut dan menyebabkan tertutupnya saluran sungai. Adanya endapan lumpur sungai juga membuat masalah besar yaitu banjir yang selalu membawa banyak penyakit, bahkan sampai banjir itu selesai. Keadaan itu membuat banyak air sumur yang sudah tidak bisa dimunum lagi dan memaksa penduduk untuk mengambil air dari sungai yang telah tercemar. Keadaan ini makin diperparah dengan keadaan daerah pemukiman yang padat dan saling berhimpit, dan terkadang antara rumah dan kandang piaraan pun terdapat dalam satu tempat yang sama dengan tanpa memperhitungkan aspek kesehatan. Keadaan seperti inilah yang nantinya akan menunjang persebaran berbagai penyakit di kota itu.

C. MEREBAKNYA BERBAGAI PENYAKIT

Ketika awal kedatangan Belanda ke Batavia, mereka mendirikan daerah pemukiman yang terletak di sekitar Pasar Ikan dan mendirikan benteng-benteng pertahanan. Orang-orang Belanda ini bermukim di dalam benteng yang dijaga sangat ketat itu. Benteng-benteng ini juga dilewati oleh sungai Ciliwung yang digunakan sebagai sarana transportasi dan kebutuhan sehari-hari. Namun setelah munculnya pabrik-pabrik gula di sekitar Batavia, keadaan lingkungan di daerah tersebut menjadi sangat tidak terawat dimana sungai atau kanal yang ada pada saat itu airnya mulai tidak berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan para pengusaha pabrik gula ini membuang sisa-sisa dari hasil produksi mereka ke sungai sehingga menyebabkan aliran air menjadi tidak lancar dan terjadi pendangkalan sungai. Keadaan itu diperparah dengan terjadinya gempa bumi di Batavia pada tanggal 4 & 5 Januari 1699 yang menyebabkan kerusakan besar pada gedung-gedung dan mengacaukan persediaan air di seluruh daerah. Gempa bumi ini juga disertai dengan letusan gunung-gunung berapi dan hujan abu yang tebal yang menyebabkan kanal-kanal penuh dengan lumpur. Dampaknya adalah aliran sungai ciliwung pun berubah dan membawa banyak endapan lumpur ke muara yang nantinya akan mengalir ke laut. Posisi benteng yang pada awalnya berbatasan dengan laut seakan-akan mundur sekitar 1 kilometer ke arah pedalaman.

Akibat dari situasi yang kotor dan kacau ini maka mulailah bertebaran berbagai penyakit seperti disentri, kolera, tipus, cacar, TBC dan malaria. Penyakit yang paling ditakuti pada saat itu adalah Malaria. Berdasarkan laporan resmi tahun 1714 hingga 1776 menyatakan 87.000 prajurit dan kelasi meninggal di rumah sakit Batavia, sementara dari 1 Januari 1730 sampai akhir Agustus 1752 jumlah keseluruhan yang meninggal di Batavia mencapai 1.119.375 jiwa. Penyakit demam rawa atau malaria yang menyerang Batavia pada tahun 1733-1738 terus berlangsung sampai dengan tahun 1808.

Pada saat itu walaupun ciri-ciri dari penyakit ini telah ditemukan yaitu demam panas, namun para ahli tetap melakukan penelitian dan percobaan. Salah satu percobaannya adalah dengan membubuhi bubur sebagai pengobatan, namun tindakan ini tidak memberikan perbaikan bahkan semakin merugikan bagi kesehatan. Orang-orang Belanda kemudian mulai berspekulasi dengan banyak meminum teh setelah melihat bahwa orang China yang bermukim di Batavia ini jarang sekali terkena penyakit. Selain teh, orang-orang Belanda juga mulai meminum arak dan kopi yang pada awalnya mereka anggap sangat aneh namun dikarenakan semakin mengganasnya wabah malaria ini maka apapun mereka lakukan demi mendapatkan kesehatan. Orang-orang Belanda yang memiki banyak uang pada saat itu mulai mengimpor air mineral dari Eropa atau sumber mata air dari pedalaman wilayah Hindia Belanda.

Dengan keadaan yang semakin kacau dan mencemaskan ini maka Anggota Dewan Perwakilan Kota mulai mengambil langkah untuk menanggulangi masalah ini. Langkah-langkah itu diantaranya adalah mempersiapkan kerbau-kerbau dengan kelompok kuli dengan mengunakan sampan membersihkan sungai-sungai dari lumpur dan bangkai-bangkai binatang. Para Anggota Dewan ini juga melarang orang-orang Eropa, terutama kaum wanita, untuk mandi di rumah-rumah pemandian sepanjang dinding sungai karena kondisi air yang berbahaya dan tercemar itu. Mereka juga mengeluarkan perintah keras agar tempat-tempat pembuangan air dan tempat-tempat lain yang lebih luas yang berisi kotoran penduduk agar dibuang ke sungai atau terusan hanya antara jam 9 malam sampai jam 4 pagi. Peraturan ini kemudian populer dengan apa yang disebut dengan semboyan negenuurs-bloemen atau kembang-kembang jam 9. Akibat dari tingginya tingkat kematian di Batavia, khususnya terhadap orang Belanda, maka Batavia yang dulunya pada abad ke-18 dijuluki sebagai Koningin Van het Ooosten atau Ratu dari Timur, maka pada abad 19 telah berubah menjadi Graf der Hollanders atau kuburan orang Belanda.

(Artikel part 1 ini ditulis oleh Rully Setiawan, mahasiswa Sejarah UI angkatan 2006, dan diedit oleh penulis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s