BATAVIA: ANTARA KOTA DAN MENTENG (2)

batavia.paleis.daendels
Istana Waterlooplein

Pusat pemerintahan kolonial Hindia Belanda telah dipindah dari Kota lama (Benedenstad) ke Weltevreden. Pemindahan itu diusulkan oleh Gubernur jenderal saat itu, Hermann Willem Daendels, dan hal itu telah disetujui pemerintah di Belanda. Alasan-alasan pemindahan itu juga sudah disebutkan dalam artikel sebelumnya. Sekarang, apakah dampak-dampak yang ada setelah pusat pemerintahan pindah? Dalam artikel ini akan dibahas dampak-dampak setelah pindah bagi Kota lama (Benedenstad) dan Menteng (Weltevreden).

Silakan dinikmati.

A. DAMPAK BAGI KOTA

Sebelum pusat pemerintahan dipindahkan, keadaan Kota lama sudah sangat parah. Adanya serangan penyakit malaria, serta sumpeknya keadaan di Kota membuat banyak orang kaya dan pemerintah Belanda yang pindah ke Weltevreden. Sebuah catatan mengatakan kalau Batavia merupakan tempat yang tidak sehat, tempat bersarangnya nyamuk malaria yang menimbulkan korban ribuan jiwa, tata letak bangunannya berhimpitan, jalan-jalan sempit dan kotor, dan kanal-kanal penuh lumpur berbau busuk. Kota lama hanya ditinggali saat kerja saja. Selesai kerja, mereka pulang ke rumahnya di Weltevreden.

Keadaan seperti itu jelas membuat Kota lama pada malam hari seperti kota mati. Siang hari ditempati, tapi kosong saat malam. Hal itu lebih diperparah saat Daendels, pada tahun 1808, memindahkan pusat pemerintahan ke Weltevreden, daerah yang lebih kering dan sehat di selatan Kota lama. Akibatnya adalah Kota lama benar-benar seperti kota mati, karena tidak ada kegiatan lagi disana, kecuali pusat pemerintahan kota Batavia sendiri.

Melihat hal itu, orang Cina yang tinggal di Glodok malah memanfaatkan hal itu. Orang-orang Cina di Glodok, yang letaknya tak jauh dari Kota lama malah menantang maut dengan menempati bangunan-bangunan Belanda di Kota lama. Sebelumnya juga, banyak orang Belanda yang pindah ke Weltevreden yang lebih sehat, sehingga banyak bangunan yang kosong. Orang-orang Cina memanfaatkan rumah-rumah besar Belanda untuk dijadikan kantor dagang mereka. Kantor-kantor dagang itu dibuka hanya pada siang hari. Selesai kerja, orang-orang Cina itu kembali ke rumahnya di Glodok.

Bangunan-bangunan Belanda yang dijadikan sebagai kantor dagang itu merupakan berkah tersendiri, karena saat itu Daendels banyak membongkar bangunan-bangunan di Kota untuk dipakai membangun Weltevreden. Paling tidak, dengan adanya okupasi oleh orang-orang Cina ini, tidak seluruh bangunan di Kota lama dibongkar. Bangunan yang dibongkar Daendels antara lain adalah Kasteel Batavia, dan banyak gedung serta tembok di Kota lama yang tidak terpakai.

Alasan Daendels bagi pembongkaran bangunan-bangunan di Kota lama ini adalah karena sudah tidak lagi efisien, dan pemerintah kota sendiri kekurangan biaya untuk membangun Weltevreden yang dijadikan pusat pemerintahan Hindia Belanda yang baru. Bangunan yang dibongkar itu digunakan sebagai bahan baku untuk membangun Weltevreden, sehingga menghemat pengeluaran untuk pembangunan Weltevreden. Untuk Kasteel Batavia, Daendels membongkarnya karena merasa tembok itu sudah rapuh, dan iklim disana sudah bisa menewaskan tentara yang berjaga di benteng itu. Sebagai gantinya, Daendels membentuk barisan pertahanan baru di Meester Cornelis, di sebelah selatan Weltevreden.

B. DAMPAK BAGI WELTEVREDEN

Sebelum menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda yang baru, Weltevreden merupakan batas pertahanan Kota lama Batavia. Hal itu ditunjukkan dengan fakta bahwa bangunan pertama yang dibangun Belanda disitu adalah sebuah benteng. Benteng itu bernama Noordwijk, yang terletak di dekat jembatan layang kereta api Jl. Pintu Air Raya. Hal itu dikarenakan di sebelah selatan Kota lama dulu masih ada sisa-sisa tentara Mataram dan Banten. Pemilik pertama Weltevreden adalah Anthonij Paviljoen, yang dihadiahi tanah ini pada tahun 1648. Inilah awal dari Weltevreden yang nantinya menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda.

 Orang yang memberikan nama Weltevreden adalah pemilik tanah setelah Paviljoen, Cornelis Chastelein pada 1683. Chastelein juga berusaha mengembangkan perkebunan kopi di tengah Weltevreden. Pemilik berikutnya, Justinus Vinck, pada tahun 1733 membuka dua pasar besar, yaitu Pasar Senen dan pasar Tanah Abang., dan tahun 1735 membuat jalan yang menghubungkan kedua pasar itu. Pemilik berikutnya, Gubernur-Jenderal Jacob Moosel, membangun rumah mewah di Weltevreden, serta menggali kali Lio untuk memudahkan pengangkutan barang dari Kota lama ke Weltevreden. Tahun 1767, rumah mewah di Weltevreden dibeli oleh Gubernur-Jenderal van der Parra, kemudian dijual lagi tahun 1797 pada Gubernur-Jenderal van Overstraten. Sejak saat itu Weltevreden jadi kedudukan resmi Gubernur-Jenderal dan pemerintahannya. Selain itu ditetapkan bahwa Weltevreden akan menjadi pusat militer.

Dengan latar belakang historis seperti itu, tidak heran kalau Weltevreden yang akhirnya dipilih sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda yang baru. Dampak yang paling terasa dari perpindahan pusat pemerintahan ini sudah jelas, yaitu semakin berkembangnya daerah Weltevreden dalam semua aspek, terutama aspek arsitekturnya. Sebagai pusat pemerintahan yang baru, tentu Weltevreden harus dibuat lebih baik dari Kota lama yang merupakan pusat pemerintahan sebelumnya. Hal ini juga untuk mengembalikan julukan “ratu dari timur” yang sempat hilang karena bencana penyakit yang menimpa Kota lama.

Pembangunan yang lebih baik itu akan terlihat dari tata kota dan bangunan yang ada setelah Weltevreden dijadikan pusat pemerintahan yang baru. Tahun 1809, Daendels memerintahkan pendirian istana di dekat Waterlooplein yang nantinya digunakan sebagai pusat pemerintahan di Weltevreden, sebagai tempat tinggal Gubernur-Jenderal, perkantoran, percetakan, kantor pos, dan pada tahun 1829 untuk pengadilan tinggi. Untuk pembangunan ini, digunakan bekas bangunan Kasteel Batavia. Selain itu, dibuat juga banyak taman kota, sehingga suasanan kota tidak sumpek lagi seperti di Kota lama.

Aspek taman kota ini penting, karena menjadi tempat berkumpul dan bersantai bagi penduduk kota. Taman seperti ini sebelumnya tidak ada di Kota lama. Menurut sebuah catatan, lapangan Waterloo (sekarang lapangan Banteng) merupakan tempat konser yang dibawakan prajurit, dan hadir disana para serdadu, perwira rendahan, para kelasi, penduduk pribumi, prajurit perempuan, beberapa orang Tionghoa, noni-noni Indo, dan para gadis Indo Eropa. Adanya hal itu juga secara tidak langsung bisa menaikkan pamor Batavia di mata dunia, setelah sebelumnya Batavia menurun pamornya karena penyakit yang mematikan.

 Selain taman, Daendeels juga memerintahkan pembangunan klub dan gedung kesenian. Hasilnya adalah di Weltevreden terdapat dua buah klub, yaitu Societet de Harmonie dan Societet de Concordia. Societet de Harmonie sendiri adalah klub untuk pria, dan kelasnya tinggi, sedangkan Societet de Concordia adalah klub untuk tentara, pria dan wanita. Pembuatan klub ini adalah untuk memudahkan pengawasan terhadap masyarakat Eropa di Hindia Belanda. Gedung kesenian juga dibangun di dekat Passer Baroe, bernama Schouwberg. Gedung ini dibangun tahun 1811 dan dimaksudkan untuk memberi hiburan kepada masyarakat Batavia, karena sedikit hiburan yang ada di Batavia.

 Diluar itu, masih banyak bangunan lain yang dibangun di Weltevreden. Tetapi, tujuan dari pembangunan ini jelas, untuk mengembalikan pamor “ratu dari timur” dan membuat kota yang lebih baik, belajar dari kesalahan tata kota di Kota lama. Untuk selanjutnya, pertambahan penduduk di Weltevreden bergerak ke arah selatan, di Meester Cornelis. Sebagai catatan juga, jarang ada penduduk lokal yang tinggal di Weltevreden, karena pemerintah Hindia Belanda menerapkan sistem kampung yang berdasar suku pada penduduk selain orang Eropa. Orang diluar Eropa yang tinggal di Weltevreden biasanya adalah budak atau berkedudukan penting.

map of batavia
Batavia map in 19th century

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s