NATIONAL MUSEUM,JAKARTA

Salah satu hobi gue adalah mengunjungi museum. Buat gue, museum adalah tempat kita buat belajar dan menghargai apa yang telah diwariskan para nenek moyang kepada kita. Nah, seiring dengan usia yang makin senior dan waktu luang yang semakin sempit, maka tiap waktu luang yang ada gue manfaatkan untuk mengunjungi museum. Kebetulan sekali, jadwal ngajar gue tanggal 15 Maret 2012 dibatalkan, sehingga gue mendapatkan waktu libur sehari. Kesempatan ini gue pergunakan untuk mengunjungi museum. Ada dua museum yang gue kunjungi, yaitu Museum Nasional, atau yang lebih akrab disebut museum Gajah; dan kedua adalah Museum Prasasti, yang dulu bernama pemakaman Kober.

 

Dalam artikel ini, gue akan membahas tentang museum Nasional dulu, baru di artikel selanjutnya membahas tentang museum Prasasti. Untuk keterangan sejarah tentang kedua museum ini, gue akan mengutip dari bukunya Adolf Heuken yang berjudul Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta (Yayasan Cipta Loka Cakara, 1997). Untuk foto-foto, semua foto merupakan hasil jepretan dari kamera gue.

 

Selamat menikmati!

 

MUSEUM NASIONAL

Museum Gajah
tuh,ada gajahnya kan?

 

Museum Nasional di Jl. Medan Merdeka Barat ini didirikan antara tahun 1862 sampai 1868 dan diarsiteki oleh Insinyur Beijerinck dengan meniru gaya vila Romawi. Museum ini didirikan atas prakarsa dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yang merupakan lembaga ilmu pengetahuan tertua di Asia (dibentuk tahun 1778 oleh J.C.M. Radermacher, seorang anggota dewan Hindia Belanda). Di depan museum ini terdapat sebuah patung gajah dari perunggu yang merupakan pemberian dari Raja Chulalongkorn dari Siam saat dia mengunjungi Batavia pada tahun 1871. keberadaan patung itulah yang membuat masyarakat lebih mengenal tempat ini sebagai Museum Gajah.

pintu masuk
monggo mlebu..

 

Museum Nasional memperoleh nama internasional karena kumpulan benda bersejarahnya dan koleksi etnografinya. Definisi etnografi sendiri adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat, kebiasaan, hukum, seni, religi, dan bahasa. Secara umum, koleksi yang terdapat di Museum Nasional meliputi peninggalan dari zaman Prasejarah (zaman batu), patung dan arca dari zaman Hindu – Buddha, prasasti bersejarah, koleksi benda berbahan emas, dan berbagai hasil budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Hasil budaya itu meliputi tekstil, pakaian adat, senjata, topeng, alat musik, bahkan boneka dan maket rumah adat dari berbagai daerah. Saking banyaknya koleksi di Museum Nasional ini, mungkin waktu sehari belum tentu cukup untuk melihat semuanya.

dwarapala
patung penjaga pintu, Dwarapala

 

Bagian pertama yang gue kunjungi adalah kumpulan patung dan arca dari kebudayaan Hindu – Buddha. Kumpulan ini terletak di halaman depan dan teras dalam museum. Jumlahnya luar biasa banyak, dan sepengamatan gue, paling banyak adalah patung Ganesha. Hal yang menarik di sini adalah patung dewi-dewi nya tidak menutupi bagian dadanya dan patung dewa-dewa nya sebagian besar memiliki perut yang menonjol. Selain patung dewa dewi, terdapat juga patung hewan yang menjadi kendaraan pribadi para dewa, diantaranya pada halaman teras dalam museum terdapat patung kerbau, atau Nandini, yang merupakan kendaraan Dewa Siwa. Tidak ketinggalan juga terdapat arca lambang-lambang suci dalam kepercayaan Hindu – Buddha, yaitu Lingga Yoni dan roda Cakra (Roda Kehidupan). Lingga Yoni adalah lambang kesuburan, dimana Lingga sebagai simbol Ayah (Tuhan) dan Yoni sebagai Ibu (pertiwi), sebagai alam semesta, telah dipuja oleh umat umat Hindu sejak 3.500 tahun sebelum masehi.

patung seorang dewi
topless..
Nandini
Kendaraan Dewa Siwa, Nandini
Arca Ganesha
Ganesha
Lingga Yoni
Kesenengan murid-murid gue

 

Selesai melihat arca dan patung Hindu – Buddha, perjalanan berlanjut ke bagian belakang museum, yaitu bagian peninggalan Prasejarah. Bila kalian hanya pernah melihat alat-alat Prasejarah dan fosil manusia purba hanya dari buku, di sini kalian akan melihat langsung seperti apa alat-alat dan fosil dengan ukuran yang sebenarnya. Satu peninggalan yang mengejutkan gue adalah Nekara. Selama ini gue mengira Nekara itu besarnya cuma sepertu tabung gas 3 kg, di sini gue melihat Nekara yang besarnya seperti kolam renang plastik buat anak-anak! Wow! Setelah gue baca keterangannya, ternyata Nekara pun ada klasifikasinya, dan yang gue lihat itu adalah Nekara klasifikasi I, dimana ukurannya sangat besar dan paling banyak terdapat di Indonesia. Sekedar catatan, Nekara klasifikasi I ini selain dipakai untuk tempat pemujaan dan untuk upacara pemanggilan hujan, ternyata Nekara juga dipakai sebagai genderang perang, alat barter, hadiah, bahkan tempat menyimpan jenasah! Wow!

Menhir
ini Menhir
Nekara
Nekara raksasa, ini beneran gede loh

 

Berjalan lagi ke bagian belakang museum, kita akan melihat bagian paling keren dari tempat ini. Di sini terdapat puncak-puncak kebudayaan daerah di Indonesia, dimana selain ditunjukkan apa saja hasil kebudayaannya, kita juga dijelaskan seperti apa budaya di sana. Hal yang keren di sini adalah adanya perahu khas suku Asmat yang panjangnya bisa mencapai 7 meter, satu set panggung pertunjukan wayang di Jawa, dan kamar pengantin tradisional Jawa. Bagian inilah yang membuat gue merasa malu sebagai orang Indonesia, karena banyak banget kebudayaan daerah yang gue ngga ngerti.

perahu
Perahu suku Asmat dari Papua
kamar pengantin
tempat honeymoon tradisional pengantin Jawa

 

Salah satu budaya yang membuat gue tertarik adalah budaya suku Toraja, terutama tentang upacara kematiannya. Mereka menganggap orang yang telah meninggal itu tidak benar-benar meninggal, tapi hanya tertidur saja, sampai dilakukannya upacara pemakaman yang membutuhkan biaya sangat mahal. Dibilang mahal karena ada kepercayaan untuk mencapau Puya, arwah orang yang meninggal itu membutuhkan kendaraan berupa kerbau, dan agar orang itu makin cepat sampai di Puya, maka jumlah kerbau dan babi yang dikurbankan harus banyak. Orang yang telah meninggal di Toraja biasanya dibuatkan Tau Tau, yaitu sebuah boneka dari kayu yang memiliki ukuran sama dengan si orang yang telah meninggal itu, dan boneka itu akan diletakkan di tebing. Yah, mungkin suatu saat gue akan mengunjungi upacara kematian di Tana Toraja, yeah!

 

Oke, bagian terakhir yang gue kunjungi adalah koleksi artefak emas. Jadi, bagian yang terletak di lantai 2 museum ini isinya memang benar-benar terbuat dari emas, dan gue yakin kalo kita bisa ngambil satu aja dan kita lelang di Christie’s Singapura,pasti harganya akan mencapai puluhan juta rupiah. Kebanyakan artefak ini berasal dari zaman Hindu-Buddha, karena artefak ini banyak berbentuk dewa-dewi dan lambang-lambang suci dari kedua agama itu. Gampangnya, sama seperti patung dan arca Hindu-Buddha yang ada di lantai satu museum, hanya saja kalau yang artefak ini semuanya bahannya dari emas (iyalah!) dan ukurannya kecil, bahkan ponsel pintar kalian masih lebih besar.

Lingga Yoni
Lingga Yoni dari emas

 

Oke, pelajaran moral dari kunjungan ke Museum Nasional hari ini adalah gue, sekali lagi, disadarkan kalau dunia itu sangat luas dan sangat banyak hal menarik untuk dieksplorasi. Kalau gue menulis tentang “jangan melupakan tentang warisan budaya nenek moyang”, maka hal itu akan terdengar munafik, maka gue akan berpesan kepada kalian yang membaca untuk sering-seringlah main ke museum, karena di sana akan banyak hal-hal yang seru dan membuka mata dan rasa toleransi kita menjadi lebih lebar. Saran gue sih sebaiknya ke museum juga sendirian aja, biar bisa lebih asik aja gitu meresap hal-hal menarik yang ditawarkan oleh museum.

 

Selamat menjelajahi museum! Cheers!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s