PARK OF MEMORIAL STONES MUSEUM, JAKARTA

Melanjutkan artikel sebelumnya, NATIONAL MUSEUM,JAKARTA, perjalanan gue berlanjut ke museum Prasasti, yang bahasa Inggrisnya adalah Park of Memorial Stones Museum (terjemahan ini berdasarkan brosurnya ya). Jarak Museum Prasasti dari Museum Nasional ngga terlalu jauh, kalau jalan kaki cuma sekitar 500 meter saja. Ohya, jalan kaki itu terkadang seru loh, kalian bisa menemukan hal yang ngga umum. Di jalan gue menemukan sebuah mobil Jeep Willis yang dijual, mungkin kalau ada yang berminat, silakan datang ke depan museum Prasasti,heheh. Alamat dari museum Prasasti ini adalah di Jl. Tanah Abang I, Jakarta Pusat.

Jeep Willis
mobil jeep willis dijual deket museum Prasasti

Sama seperti artikel sebelumnya, gue akan mengutipkan beberapa fakta dari bukunya Adolf Heuken yang berjudul Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta (Yayasan Cipta Loka Cakara, 1997). Keterangan tambahan akan dikutip dari brosur museum. Untuk foto-foto, semua berasal dari kamera gue.

Oke, selamat menikmati!

Museum Prasasti ini adalah museum yang diresmikan pada tahun 1977 oleh gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Sebelumnya, tempat ini bernama Pemakaman Umum Kebun Jahe Kober, dan nama Belandanya adalah Kerkhof Laan. Oleh penduduk Jakarta, dulu tempat ini disebut Graff fer Hollanders, atau kuburan orang Belanda. Yap, tempat yang gue kunjungi ini adalah bekas kuburan,heheh.

museum Prasasti
ini depannya museum Prasasti

Tidak banyak orang yang tahu kalau museum Prasasti ini merupakan salah satu taman pemakaman umum modern tertua di dunia. Kerkhof Laan ini dibangun oleh pemerintah Batavia pada 28 September 1795. Sebagai perbandingan, Mount Auburn Cemetery di Cambridge, Massachussets, Amerika Serikat, yang mengklaim sebagai taman makan modern pertama di dunia, baru dibangun pada tahun 1831. Perbandingan yang lain adalah Fort Canning Park di Singapura (dibangun tahun 1926), Gore Hill Cemetery di Sydney (1886), La Chaise Cemetery di Paris (1803), dan Arlington National Cemetery di Washington DC (1864). Yap, taman pemakaman umum modern tertua di dunia.

Di Kerkhof Laan ini ada beberapa orang penting yang dikuburkan di sana. Pertama, ada Olivia Marianne Raffles (meninggal tahun 1814), yang merupakan istri dari Gubernur Jenderal Inggris dan pendiri Singapura, Sir Thomas Stamford Raffles. Yang lainnya ada Dr. H.F. Roll (meninggal tahun 1935), merupakan pendiri sekolah Dokter STOVIA; Dr. J.L.A. Brandes (1905), pakar sejarah purbakala Hindu Jawa di Indonesia; Mayor Jenderal J.H.R. Kohler, komandan tentara Belanda yang ditembak mati oleh sniper Aceh; dan tak ketinggalan Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa era 106-an yang turut membidani Tritura dan merupakan alumni jurusan Sejarah UI.tahun 1969.

makam Soe Hok Gie
"Nobody knows the troubles, I see nobody knows my sorrow"

Hal yang juga menarik di museum Prasasti ini adalah adanya replika tugu peringatan Pieter Erberveld. Yang mau cerita lengkapnya, klik di sini. Intinya adalah Pieter Erberveld merupakan orang yang mendapat hukuman paling berat dari pemerintah kolonial Belanda dengan tuduhan telah merancang pemberontakan. Hukumannya adalah tangan dan kakinya diikatkan pada empat ekor kuda, dan kuda-kuda itu akan berlari ke empat arah yang berlawanan. Mayat dari Erberveld sendiri dibiarkan saja untuk dimakan burung bangkai. Nah, tengkorak dari Erberveld sendiri ditancapkan pada sebuah tombak, dan diletakkan di atas sebuah tembok yang bertuliskan peringatan untuk tidak macam-macam pada pemerintah kolonial Belanda dalam bahasa Belanda, dan Jawa. Tugu itu pada awalnya terletak di sebelah Gereja Portugis, Jl. Pangeran Jayakarta, tapi sayang pada zaman Jepang tugu itu dihancurkan. Sebagian reruntuhannya sekarang ada di halaman belakang Museum Fatahillah di Kota, Jakarta, dan replikanya dibuat di museum Prasasti.

Pieter Erberveld
replika tugu peringatan Erberveld

Satu hal yang membuat gue tertarik mengunjungi museum Prasasti adalah bentuk nisannya yang menarik, yang mungkin tidak akan kita temukan di Indonesia. Mungkin gue bisa bilang eksotis, apalagi kalau terawat,heheh. Banyak patung-patung yang sangat indah, yang pada masanya, bahkan mungkin masa sekarang merupakan karya terbaik. Yah, foto-foto ini bisa menjelaskan maksud gue. Silakan dilihat.

masterpiece1
klasik!

masterpiece
gimana?
beer family
The Beer family..liat aja nama keluarganya..
citizen of NY
bahkan di sini ada makamnya orang Amrik juga..

Gue juga kebetulan suka dengan sejarah konspirasi, dan pada museum Prasasti terdapat beberapa simbol yang menyatakan bahwa orang yang telah meninggal ini merupakan anggota persaudaraan Freemason. Tanda yang paling kentara menurut sumber-sumber adalah adanya lambang tengkorak yang merupakan lambang persaudaraan Templar, yang merupakan cikal bakal persaudaraan Freemason, dan lambang bintang dengan delapan penjuru yang merupakan salah satu lambang Freemason. Silakan dilihat lagi.

freemason
noh,ada lambang tengkoraknya kan?
freemason
arsitek Freemason😛

Ada lagi yang kelupaan. Di museum Prasasti ini juga ada kereta jenasah yang dulu sering dipakai untuk membawa jenasah (iyalah!) untuk dikuburkan di sini. Selain itu di tempat ini ada makam untuk memperingati tentara Jepang yang gugur untuk membantu bangsa kita melawan Sekutu. Mereka gugur dalam perang di sungai Cijantung, desa Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat. Walau hanya 30 orang, tapi menurut gue mereka ini harus dihormati juga sebagai pahlawan.

kereta kencana
Kereta pembawa jenasah
makam Jepang
ini makam peringatan untuk tentara Jepang
makam Jepang
ini nama-namanya...

Oke, pelajaran moral. Apa ya? Mungkin lebih menghargai warisan budaya aja kali ya. Gue ngomong gini karena gue prihatin melihat orang-orang yang melakukan tindakan vandalisme di tempat-tempat bersejarah, entah dengan mencorat-coret ataupun menggores dan bahkan merusak. Sangat banyak patung di museum Prasasti yang entah tangannya patah, kepalanya hilang, dan sebagainya. Sangat sayang kalau warisan budaya seperti ini dirusak orang-orang yang peradabannya terbelakang. Lahan yang tidak terawat mungkin juga harus diperhatikan ya. Gue melihat orang-orang dari dinas konservasi berusaha merawat tempat itu, namun untuk tempat seluas 1,3 hektar, 8 orang petugas, dan museum mendapat jatah paling kecil dalam APBD Jakarta, apa sih yang bisa mereka lakukan? Tugas kitalah untuk meringankan kerja mereka dengan tidak membuang sampah dan tidak merusak tempat itu.

Selamat menjelajah museum, cheers🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s