PERANG SIPIL,GEREJA,DAN PERBUDAKAN DI AMERIKA SERIKAT

outrage
abolitionist movement

Salah satu masalah utama di Amerika Serikat adalah perbudakan kulit hitam. damapk terbesar dari isu perbudakan ini adalah munculnya Perang Sipil di Amerika Serikat pada tahun 1861-1865, dimana pihak utara (Union) menolak perbudakan, sementara pihak selatan (Confederation) mendukung perbudakan. Selengkapnya tentang Perang Sipil, klik di sini. Perbudakan sendiri bertentangan dengan iman Kristen (equality of men) yang menjadi agama dominan di sana. Gereja sendiri juga ikut campur dalam masalah perbudakan ini. Pada akhirnya perbudakan menjadi kontroversi karena ada pertentangan antara ekonomi dan agama.

 Thomas Paine bilang kalau orang Afrika punya hak kebebasan yang sempurna dan natural. Hal ini membuat publik Amerika Serikat terpana, bahkan mendapat dukungan dari selatan. Tahun 1787, negara bagian Rhode Island, Vermont, Massachusetts, Connecticut, New York, New Jersey, dan Pennsylvania menyatakan mendukung abolisionis, yaitu gerakan yang menentang perbudakan terhadap orang kulit hitam. Akhir abad ke 18, kelompok abolisionis mulai tampil dengan nama The Society for the Relief of Free Negroes Unlawfully Held in Bondage yang dibentuk di Philadelphia tahun 1775. Organisasi serupa juga ada di New York (1785), Maryland (1790), Virginia (1791), Connecticut (1791), New Jersey (1792), dan Delaware (1794). Tahun 1794, gerakan itu menjadi bertaraf nasional dengan nama The American Convention for Promoting the Abolition of Slavery and Improving the Condition of the African Race.

 Selama masa kolonial, Society of Friends dari kaum Quackers, memimpin perlawanan terhadap perbudakan. Petisi pertama terhadap kongres dibuat tahun 1790 oleh kaum Quacker. Pembicara paling vokal dari kaum Quacker adalah Benjamin Lundy. Pemikiran Lundy adalah mendukung abolisionis di seluruh daerah dan pemberian koloni tersendiri di daerah Amerika Serikat untuk kaum kulit hitam.

Setelah revolusi, kaum Methodist adalah kaum yang pertama menentang perbudakan. Pemilik budak disuruh melepas budak, termasuk kaum Methodist yang punya budak, dan jika dalam setahun tidak melakukannya, dia akan dikeluarkan dari gereja. Langkah ini sendiri gagal karena kondisi alam yang ekstrim. Tahun 1804, konferensi umum Methodist menyatakan sekali lagi kalau menentang perbudakan. Tahun 1808, gereja Methodist melarang anggotanya punya budak. Tahun 1816, konferensi umum Methodist meniru “compromise law” yang hanya mengijinkan pemilik budak tinggal di negara bagian yang menerapkan perbudakan.

Isu abolisionis juga ada di kalangan Baptist setelah revolusi. Awal tahun 1787, Kentocton Association di Virginia mengumumkan perbudakan sebagai kekerasan terhadap hukum Tuhan, dan siap bekerja untuk emansipasi. Banyak rencana dari kaum Baptist untuk emansipasi, tapi mengalami banyak penolakan. Akhirnya di Indiana kaum Baptist banyak membantu para budak melarikan diri dari koloni selatan menuju koloni utara atau menuju Kanada. Gerakan ini dikenal sebagai Underground Railroad.

Gerakan resmi pertama Presbytarian pertama dalam mempertanyakan perbudakan dilakukan para Synod di New York dan Philadelphia tahun 1787. mereka menuntut penghapusan perbudakan dan pendidikan bagi budak sehingga mereka bisa hidup bermasyarakat. Tahun 1818, muncul resolusi dari General Assembly Presbytarian yang menggambarkan perbudakan sebagai “kekerasan paling kotor terhadap hak paling asasi manusia dan sepenuhnya tidak sesuai dengan hukum Tuhan” dan memperingatkan orang Kristen “secepatnya menghapus noda ini dari agama suci kita dan untuk memperoleh kebebasan perbudakan dalam Kristen dan bila mungkin seluruh dunia”.

Agama lain di Amerika juga mengumumkan jawaban mereka mengenai perbudakan. Tahun 1800, The Reformed Presbytarian mengumumkan tidak boleh ada pemilik budak yang boleh menjadi anggotanya. Congregational dan Uniteranians juga sepenuhnya melawan perbudakan. Katolik Roma dan Episcopal tidak mengambil tindakan resmi mengenai perbudakan.

Ada usul untuk memulangkan kaum kulit hitam ke Afrika (ide Liberia). Ide itu dikemukakan oleh Samuel Hopkins tahun 1776, seorang Congregational dari Rhode Island. Jumlah kaum kulit hitam sendiri di Amerika Serikat pada tahun 1815-1820 ada 200,000 orang, dimana setengahnya tinggal di perbatasan Delaware, Maryland, Virginia, dan North Carolina. Untuk membantu kaum kulit hitam mendapat hidup baru, dibentuk American Colonization Society pada 1 Januari 1817, yang dipimpin oleh Ralph Gurley, seorang Presbytarian. Ralph Gurley sendiri akhirnya punya ide untuk menjalankan program Liberia. Maret 1821, kapal pertama membawa 89 orang kaum kulit hitam menuju Sierra Leone. Tahun 1830, masalah mulai ada di Liberia. Kemiskinan dan penyakit mulai ada, sementara para pemikir utara menemukan beban finansial yang lebih besar dari keuntungan, dan pemilik budak tidak begitu tertarik dengan persamaan derajat kaum kulit hitam.

 Rencana Liberia gagal dan pada tahun 1830an perbudakan kembali menjadi perhatian utama kaum abolisionis. Penemuan mesin pembersih kapas oleh Whitney pada tahun 1792 dan perkembangan pasar katun di Inggris telah menaikkan ekonomi selatan. Sejak disadari kalau budak adalah komunitas penting dalam ekonomi, harga budak melonjak jadi $2000 per budak, dan antara tahun 1800 sampai 1820, jumlah budak meningkat dari 900,000 orang menjadi 4,000,000 orang.  Perbudakan malah menjadi makin berkembang, dan jumlah antara free state dan slave state mulai berimbang.

Gerakan abolisionis sendiri dimulai saat William Lloyd Garrison (1805-1879) pada tahun 1829 bergabung dengan Benjamin Lundy, orang yang mempublikasikan The Genius of Universal Emancipation dalam 8 tahun kemudian. Itu terjadi tidak lama setelah mereka berkampanye di Boston mengenai antiperbudakan. Tahun 1832, pengikut Garrison membentuk New England Anti Slavery Society. Setahun kemudia, gerakan itu menjadi nasional dedngan nama American Anti Slavery Society di Philadelpia. Tahun 1836 ada 250 oraganisasi di 13 negara bagian, dan tahun 1838 jumlahnya meningkat jadi 1006 organisasi. Mereka mengirim surat pada Kongres dan negara bagian menyruh gereja untuk mengingatkan pemilik budak.

William Lloyd Garrison

Kebanyakan pejuang abolisionis adalah kaum Evangelis yang menginginkan perubahan dalam masyarakat. Contohnya adalah Theodore Dwight Weld (1805-1895) yang mendedikasikan hidup untuk gerakan abolisionis setelah mendengar pidato Charles Finney di New York. Weld mendirikan Lane Seminary di Cincinnati tahun 1833 dan berusaha membuat sekolah itu menjadi pusat dari abolisionis. Lane Seminary mendirikan masyarakat antiperbudakan, menjalankan sekolah, dan sekolah minggu untuk hidup yang lebih baik bagi kaum kulit hitam. Mereka menjadi sangat terlibat dalam kehidupan kaum kulit hitam dan ditakutkan radikalisme di Lane akan menyebabkan turunnya dukungan publik dan melarang aktivitas dari Weld beserta pengikutnya. Melihat hal itu, mayoritas pelajar Lane pindah ke Oberlin Seminary yang dipimpin oleh Tappan bersaudara. Oberlin sendiri akhirnya memenangkan penghargaan sebagai pusat abolisionis di barat. Lulusannya menyebar, ceramah tentang antiperbudakan, dan memenangkan penghargaan di Pennsylvania barat, New York barat, Ohio, dan Michigan sampai daerah-daerah itu menjadi lebih kuat dari New England dalam masalah antiperbudakan.

Saat kaum abolisionis melanjutkan kampanye agresif mereka, paksaan fisik juga berlaku. Mereka menghukum pengusaha utara yang takut hilang hubungan perdagangan dengan selatan dan takut berkompetisi dengan kaum kulit hitam. Tahun 1830, Garrison bertingkah kasar dan tidak bertanggung jawab terhadap orang yang tidak setuju dengan dia. Contohnya adalah dia mengatakan tentang korupsi di gereja, menghina konstitusi sebagai “perjanjian dengan kematian dan persetujuan dengan neraka”, dan melawan partisipasi dalam politik.

Awal tahun 1840an, Protestan di utara terbagi jadi 3 kelompok untuk membahas perbudakan. Pertama, memutuskan minoritas abolisionis berkorban untuk kebebasan kaum kulit hitam. Kedua, kaum konservatif menyatakan pertimbangan perbudakan untuk perdamaian dan kesatuan. Ketiga, kaum Evangelis yang berharap menujukkan cinta pada para pemilik budak, tapi merasa mereka mungkin mengabaikan sentimen antiperbudakan mereka. Saat Stephen Douglas mengeluarkan UU Kansas-Nebraska tahun 1854, ada provokasi dari Francis Wayland yang ingin UU itu menjadi hukum. UU Kansas-Nebraska adalah UU yang menyediakan hak pada legislatif teritorial untuk melarang perbudakan yang akhirnya memancing perang antara pro dan antiperbudakan (peristiwa itu dikenal sebagai Bleeding Kansas).

Orang selatan mengerti kalau pebudakan amat penting untuk ekonomi mereka, sehingga mereka menaruh perhatian terhadap hal itu. Kerja paling signifikan dari selatan adalah saat Thomas R. Dew mengeluarkan Essay of Slavery tahun 1832 untuk menjawab orang Virginia yang antiperbudakan. Dew juga memberikan tambahan kalau perang dapat dihindari dengan melatih Negro menjadi buruh profesional dan ikut menikmati standar hidup yang lebih baik daripada harus kembali ke tanah asal mereka. Orang Kristen harus menerima kalau perbudakan adalah dosa, tapi harus bisa memperlakukan budak deengan baik dan menguntungkan masyarakat dan agama Kristen.

Perbedaan pendapat antara utara dan selatan dalam hal perbudakan akhirnya membuat agama-agama terpecah. Peristiwa ini dikenal deengan nama DENOMINATIONAL SCHISM. Berkut beberapa agama yang terkena imbas perbedaan pendapat utara dan selatan:

  • The Methodist

 

Methodist Episcopal Church adalah salah satu agama yang pecah pertama. Tahun 1834, Methodist Anti Slavery Society dibentuk di New York, dipimpin oleh LeRoy Sunderland, setahun kemudian organisasi itu ada di New England dan New Hampshire. Mimbar sendiri dikuasai kaum abolisionis utara, tapi di saat yang sama kaum Methodist di selatan menyatakan tidak mempermasalahkan perbudakan. Hal ini akhirnya memancing protes dari kaum utara. Konferensi sendiri menyatakan mendukung perbudakan pada tahun 1840, dan selama 4 tahun gerakan abolisionis ada di titik paling rendah.

Tahun 1841, sekelompok kecil Methodist di Michigan membuat Wesleyen Methodist, dan dalam 2 tahun mempunyai lebih dari 1000 anggota. Setahun kemudian, abolisionis yang kecewa bertemu di Albany, New York dan memutuskan untuk melepaskan diri dari gereja karena pemerintahnya yang aristokrat, penolakannya untuk melarang pemilik budak menjadi anggota, dan perselisihan dalam urusan gereja. Pada Mei 1843 disahkan Wesleyen Connection yang melarang perbudakan dan makanan dan minuman yang bersifat memabukkan.

Saat penunjukan pendeta William Cooper dari South Carolina sebagai ketua pusat Methodist, muncul Plan of Separation karena ada perbedaan pandangan antara Methodist utara dan selatan. Hasilnya adalah dibentuknya Methodist Eepiscopal Church South pada tahun 1845 yang hampir sama dengan utara dan memakai aturan perbudakan yang dibuat kaum utara pada tahun 1860. Walau begitu, kaum utara banyak yang meragukan dan mempertanyakan kebijakan pusat tentang memecah agama.

 Saat ketua pusat Methodist dipilih lagi pada tahun 188, plan of Separation ditinggalkan dan menyatakan “pusat tidak mempertimbangkan secara sesuai sekarang untuk masuk dalam persaudaraan dengan Methodist Episcopal Church South”. Peringatan Peter Cartwright pada tahun 1844 bahwa hasil dari schism adalah kompetisi dan perselisihan dalam suatu perbatasan adalah bersifat ramalan. Mereka akhirnya berebut pengaruh di Kentucky, Missouri, Virginia barat, dan Maryland.

  • The Baptist

Sejak tahun 1814, Triennial Convention telah mengurus aktivitas misionaris di utara dan selatan. Tahun 1832, kepengurusan aktvitas misi diurus oleh American Baptist Home Mission Society. Masalah mulai ada saat selatan mulai protes karena perhatian utama lebih tertuju pada daerah yang banyak menerima imigrasi dari New England dan Middle Atlantic, dan kebutuhan selatan tidak diindahkan. Tapi masalah utama tetap perbudakan.

Beberapa kaum utara pada tahun 1842 memulai usaha mereka untuk membujuk misionaris asing untuk lebih dekat pada Anti Slavery Convention. Tahun 1843 kaum antiperbudakan bertemu di Boston dan membentuk American and Foreign Free Baptist Board of Foreign Mission. Petugas dari Board of the Home Mission Society diuji saat Georgia Baptist Convention meminta pemilik budak menjadi misionaris untuk kaum Cherokee. Hal itu ditolak dan memancing kecurigaan bahwa pengaruh kaum abolisionis punya efek pasar bagi utara dan selatan. Alabama State Convention mengirim ultimatum pada Foreign Mission Board karena kecurigaan itu. Sejak ultimatum itu dijawab, mustahil bagi misionaris untuk membawa budak, walau secara moral dia harus membantu mereka.

 Tanpa tindak lanjut, konvensi selatan dan pembantu Foreign Missionary Society secara resmi dibebaskan dari organisasi nasional. Akhirnya Virginia Foreign Missionary Society mengadakan rapat di Augusta, Georgia pada Mei 1845 dan membentuk Southern Baptist Convention. Tujuan Southern Baptist Convention adalah kerjasama dalam mempromosikan misi lokal dan asing tanpa ikut campur dengan kebebasan gereja lokal.

  • Presbytarian

 

 New School Presbytarian terlihat lebih halus daripada Old School Presbytarian berkaitan dengan penyebab perbudakan dan bekerja lebih teliti dalam menjaga persatuan agama. Hal ini terlihat pada New School General Assembly pada tahun 1839, saat pemimpinnya mencoba memberi alasan terhadap pertanyaan tentang perbudakan. Abolisionis, merasa tidak puas karena tidak diijinkan untuk melakukan pengusiran terhadap pemilik budak.

Sementara itu, New School Assembly menjadi lebih keras dalam pengutukan terhadap perbudakan, ditekan oleh adanya sentimen abolisionis di New England dan Middle West. Tahun 1853, Assembly meminta gereja sendiri di slave state untuk menyediakan info bagi pemilik budak. New School Assembly pada tahun 1857 menentang doktrin kalau perbudakan adalah “peraturan Tuhan”, dan “berkaitan dengan Injil”. Melihat itu selatan bersiap untuk melepaskan diri. Hasilnya adalah 6 Synod dan 21 Presbytarian membentuk United Synod of Presbytarian Church dengan 15,000 anggota.

Selama dekade kritikal yang berlangsung pada tahun 1860an, isi yang tidak sempurna tentang minoritas abolisionis adalah penyebab konflik dengan anggota Old School Presbytarian. Tahun 180an, pasukan abolisionis di Middle West menjadi punya kekuatan yang cukup untuk mengurus seminari yang mereka harapkan menjadi kekuatan abolisionis terhadap kekakuan Presbytarian. Tapi lewat bantuan dana dariCyrus McCormick (pendukung perbudakan), institut ini menjadi dibawah kendali General Assembly, dan dipindah ke Chicago pada tahun 1859 yang akhirnya yang akhirnya dinamai McCormick Theological Seminary.

Agama-agama lain tidak terlalu terpengaruh dengan masalah ini. Alasan-alasannya adalah anggotanya banyak yang berasal dari utara sehingga otomatis antiperbudakan, dan yang lain tidak mengurusi masalah politik. Congregational dan Unitarians anggotanya banyak di utara sehingga otomatis antiperbudakan. Friends, walau jumlahnya berimbang di utara dan selatan, tapi mereka sangat antiperbudakan. Episcopal sendiri tidak mengambil tindakan resmi. Lutherans membatasi antara hubungan agama dan masalah sosial sehingga tidak mengambil tindakan. Katolik Roma sendiri menentang perbudakan, tapi percaya perbudakan bisa dihapus secara bertahap dan sesuai hukum, dan tidak mengambil tindakan resmi.

2 thoughts on “PERANG SIPIL,GEREJA,DAN PERBUDAKAN DI AMERIKA SERIKAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s