RAINBOW COALITION,KOALISI POLITIK ETNIS DI AMERIKA SERIKAT

Sebelum Jesse Jackson terpilih sebagai calon presiden untuk partai Demokrat tahun 1988, politik tentang keikutsertaan orang kulit hitam di AS memiliki dua cara. Pertama adalah separatisme dan yang kedua adalah integrasi dan pembentukan koalisi.

Pemikiran separatisme diungkapkan oleh pemimpin SNCC Stokely Carmichael dan ilmuwan politik Charlie V. Hamilton pada tahun 1967. mereka mengemukakan kepentingan kulit hitam berbeda secara mendasar dengan kaum liberal, pekerja, dan kelompok reformis lain. Mereka juga mendesak “diperbaruinya sama sekali masyarakat”. Bahkan ada usulan agar dibentuk negara bagian khusus orang kulit hitam.

Pemikiran separatisme itu ditentang oleh pemikir koalisi dari Martin luther King Jr dan Bayard Rustin. Mereka mengatakan pemikiran separatisme akan sia-sia, apa gunanya mengelola wilayah sekolah yang miskin? Menurut Rustin dengan separatisme “orang kulit hitam akan tetap di daerah kumuh , dengan ketergantungan pada obat bius, angka-angkan kejahatannya yang membumbung, angka penganggurannya yang tinggi, dan perumahannya yang memprihatinkan”.

Bagi Malcolm X, perlawanan bisa dimulai dari tempat pemilihan. Tempat pemilihan menurut Malcolm X adalah tempat dimana setiap orang kulit hitam dapat memperjuangkan kepentingan orang kulit hitam dengan cara yang terhormat dan dengan kekuatan dan alat yang dipahami, dihormati, serta ditakuti orang kulit putih. Terpilihnya Jesse Jackson membuktikan ucapan Malcolm X ini. Contoh lainnya adalah George C. Wallace yang pada tahun 1970 terpilih menjadi gubernur Alabama, dan menjelang tahun 1982 Alabama mempunyai persentase pejabat kulit hitam tertinggi di daerah selatan dengan angka 24,5%.

Setelah memegang jabatan, orang kulit hitam menemukan bahwa kekuatan tidak dapat diterjemahkan menjadi program tanpa pembentukan koalisi. Sebab itu maka jumlah orang Afro-Amerika makin banyak yang memegang jabatan di pemerintahan, yaitu dari 1496 orang menjadi 6424 orang dari tahun 1970 sampai 1986. Banyak politikus kulit hitam yang memulai karier dari program suku yang sempit dan dengan cepat menarik perhatian orang kulit hitam lainnya.

Contoh politikus yang memulai karier dengan program suku adalah Leroy Johnson, Gordon Lindsay, dan yang paling terkenal adalah Willie L. Brown Jr. Brown adalah tokoh partai Demokrat kulit hitam yang menjadi ketua DPRD California. Brown sendiri masuk politik tahun 1965 sebagai anggota DPRD California. Tahun 1981 Brown mengemukakan politik ras telah lampau dan bahwa politikus kulit hitam maupun putih harus menghindari masalah kontroversial seperti angkutan bis.

Akhirnya muncul kesimpulan bahwa politikus kulit hitam yang berkampanye dalam negara bagian / di kota-kota besar harus memenangkan suara orang kulit putih supaya terpilih. Contohnya adalah Roland W. Burris, pengawas keuangan negara bagian di Illinois yang pada tahun 1985 juga terpilih menjadi wakil ketua partai Demokrat seluruh AS. Burris juga mendesak kaum politikus kulit hitam untuk memahami bahwa mereka akan meningkatkan kekuatan kulit hitam dengan membangun koalisi. Contoh lain adalah Harrold Washington, yang terpilih menjadi walikota Chicago, dimana Chicago hanya 40% penduduknya berkulit hitam. Harrold Washington ternyata juga mencari dukungan dari orang Polandia dan Asia.

Contoh pelaku politik koalisi yang terkenal adalah Jesse Jackson. Saat ingin mencalonkan diri sebagai presiden pada awal-awal tahun 1980an, pemikiran separatis masih ada di pikirannya. Pemikirannya mulai berubah saat dia tidak menghadiri pembentukan sebuah partai separatis kulit hitam, walau dalam pidatonya tahun 1984 masih menyebutkan “rainbow coalition” dan jarang mendekati pemilih kulit putih. Menjelang tahun 1988 dia sudah jarang memakai “rainbow coalition” dan ingin membentuk ‘koalisi baru” yang mencakup pengusaha pertanian, serikat pekerja, guru, dsb. Hasilnya Jackson mendapatkan peningkatan dukungan baik dari kulit putih dan hitam.

Hasil penting pencalonan Jackson adalah meluaskan secara besar-besaran keikutsertaan orang Afro Amerika dalam kehidupan politik tahun 1980an. Jackson juga berperan menaikkan jumlah pemilih di daerah-daerah pemungutan suara kulit hitam dalam pemilihan pendahuluan tahun 1984 di New York berlipat dua lebih dari jumlah tahun 1980 dan di semua negara bagian yang jumlahnya meningkat 14% sampai 87%. Peningkatan itu juga dimungkinkan dengan makin meningkatnya jumlah dari kalangan orang kulit hitam yang berdinas sebagai pegawai pemerintah dan hakim dalam kota negara bagian / pemerintahan federal.

Setahun setelah UU Hak-Hak Memberikan Suara disahkan tahun 1966, sejarawan Eugene D. Genovese menganjurkan separatisme kulit hitam sebagai strategi untuk mengubah sistem kapitalis Amerika menjadi sistem yang membawa keadilan ala sosialis. 20 tahun kemudian pandangan itu jarang dikemukakan dan hamper tidak mendapat dukungan sama sekali dari orang kulit hitam yang mencalonkan diri untuk suatu jabatan.

Mayoritas orang Afro Amerika lebih menyukai dimasukkannya mereka ke dalam kebudayaan Amerika dengan pluralisme suka rela. Dalam kerangka pluralisme suka rela, sejumlah orang Afro Amerika telah berhasil membuka usaha, bank, pengembangan masyarakat, dsb. Fleanor Holmes Norton, mantan ketua Equal Opportunity Employment Commision menyebut terpilihnya calon kulit hiotam tahun 1989 di distrik yang didominasi kulit putih “sebuah babak baru dalam demokrasi Amerika”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s