INDONESIA RAYA DAN MALARI

SURAT KABAR INDONESIA RAYA 

Surat Kabar Indonesia Raya

Secara umum, surat kabar Indonesia Raya adalah surat kabar yang terkenal karena isi beritanya yang berupa kritik yang tajam dan langsung, menentang apa saja yang dipandangnya sebagai korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan, ketidakbenaran, dan feodalisme dalam sikap. Surat kabar Indonesia Raya ini juga dikenal sebagai “personal journalism”, karena surat kabar ini sendiri identik dengan pemimpin redaksinya yang legendaris, yaitu Mochtar Lubis. Akibat sikap kerasnya ini, surat kabar Indonesia Raya sempat mengalami sebuah masa vakum dan akhirnya berhenti samasekali. Oleh karena itu, surat kabar Indonesia Raya dibagi menjadi dua periode, yaitu periode pertama (dari terbit pertama pada 29 Desember 1949 sampai vakum pertama pada 2 Januari 1959) dan periode kedua (dari terbit kembali pada 30 Oktober 1968 sampai berhenti pada 21 Januari 1974).

A. Surat Kabar Indonesia Raya Periode Pertama

Surat kabar Indoensia Raya ini tidak bisa dilepaskan dari tentara saat pertama kali terbit. Saat terbit pertama dengan pemimpin redaksi Himawan Darmaputra dan Mochtar Lubis, surat kabar ini menyebarkan semangat perlawanan terhadap Belanda yang saat itu masih ada di Indonesia, khususnya di daerah divisi Siliwangi. Tentara sendiri juga memberikan timbal balik dengan melindungi surat kabar Indonesia Raya. Dari sini surat kabar Indonesia Raya sering diidentikkan sebagai surat kabar tentara.

Mochtar Lubis

 

Seperti surat kabar lainnya, Indonesia Raya juga mengalami fase pasang surut. Pada 16 Oktober 1955 mereka sempat menerbitkan mingguan pertama kaloi dengan nama “Masa dan Dunia”, dimana bertahan sampai 29 April 1956. Pada 29 Juli 1956 muncul mingguan yang baru bernama Minggu Indonesia Raya. Oplah maksimal mereka terjadi pada tahun 1957 sampai pertengahan 1958, yaitu rata-rata 47.500 eksemplar. Setelah itu terjadi penurunan karena ada 6 kali pembredelan pada mereka sehingga membawa kesulitan finansial.

Menurut David Hill, ada lima isu pokok dalam surat kabar Indonesia Raya periode pertama. Pertama, peristiwa 17 Oktober 1952. Kedua, penahanan Ruslan Abdulgani. Ketiga peristiwa pergerakan diluar Jawa. Keempat, pernikahan Presiden Soekarno dengan Hartini. Kelima adalah ekses dari penyelenggaraan KAA.

Pada 4 November 1958, terbit surat kabar Indonesia Raya dalam 2 versi karena adanya perbedaan visi antara pemimpin redaksi pada saat itu, yaitu antara Hasjim Mahdan dengan Mochtar Lubis. Hasjim Mahdan tidak suka dengan kritik Mochtar Lubis yang terlalu keras dalam berita, sehingga surat kabar Indonesia Raya sempat mengalami beberapa kali pembredelan. Surat kabar Indonesia Raya yang dipimpin Hasjim Mahdan terbit pada pagi hari, sementara yang dipimpin Mochtar Lubis terbit sore. Hal ini menyebabkan oplah yang terus menurun, sehingga surat kabar Indonesia Raya berhenti terbit dan mengalami masa vakum.

 

B. Surat Kabar Indonesia Raya Periode Kedua

 

Mulainya periode kedua ini ditandai dengan lepasnya Mochtar Lubis dari penjara dan adanya perdamaian antara Mochtar Lubis dengan Hasjim Mahdan. Pada periode kedua ini juga surat kabar Indonesia Raya mendapat bantuan dari pihak swasta, sehingga secara finansial mereka lebih terjamin. Oplah surat kabar Indonesia Raya sempat meningkat pada tahun 1969 menjadi 22.000 eksemplar, karena mereka berani mengkritik kebijakan Pertamina. Pada tahun 1973 juga surat kabar Indonesia Raya mulai menggunakan mesin cetak offset sehingga terjadi perbaikan dalam bagian perwajahan.

Disini akan dibahas beberapa isu yang terjadi selama periode kedua terbit dan respon surat kabar Indonesia Raya terhadap peristiwa itu.

  • Indonesia Raya dan Pemberitaan Seputar Proyek TMII

Pada intinya mereka melakukan protes, sama seperti mahasiswa. Kemudian mereka bersikap netral, tidak menentang dan tidak mendukung.

  • Pemberitaaan Sepitar Korupsi dan Manipulasi

Mereka meliput secara tajam dan menyorot. Masalah yang paling disorot adalah praktek korupsi dalam Pertamina dan juga dana Bulog.

  • Pemberitaan Tentang Pemuda dan Mahasiswa

Intinya mendukung, seperti pada Pemilu 1971 dimana gerakan Golput (tidak ikut memilih dalam Pemilu) mulai dilakukan mahasiswa, dan mendukung protes mahasiswa dalam pembangunan TMII.

  • Pemberitaan Tentang Keadaan Politik Nasional

Mereka mengeluarkan banyak kritik.

  • Pemberitaan Tentang Kesenjangan Sosial dan Strategi Pembangunan Nasional

Mereka mengeluarkan tulisan yang menunjukkan kepedulian terhadap rakyat kecil.

  • Peliputan Atas Peristiwa 5 Agustus 1973 di Bandung

Di Bandung sendiri saat itu terjadi insiden pengrusakan terhadap toko-toko yang dimiliki orang-orang keturunan Tionghoa. Surat kabar Indonesia Raya sendiri mengeluarkan tulisan yang melihat ini dari sisi psikologi sosial.

  • Pemberitaan Tentang Modal Jepang di Indonesia

Sikapnya menentang, khawatir karena kerjasama ini akan menguras hasil alam Indonesia dan bagian yang didapatkannya akan kecil. Dalam kesempatan ini, mereka sempat memuat artikel khusus Jepang, yang membahas tentang kebudayaan Jepang, walau di sisi lain tidak mengurangi kritikannya.

  • Pemberitaan Tentang Hubungan Pers dan Pemerintah

Mereka sempat menentang SIC (Surat Ijin Cetak) milik Sinar Harapan yang dicabut. Mereka menyatakan bahwa kalau surat kabar ditindak, sumber beritanya juga harus ditindak. Secara umum juga mereka tetap membela kepentingan rakyat.

 

PERISTIWA 15 JANUARI 1974

 

Peristiwa Malari

 

Secara umum, ada dua perspektif dalam pembangunan industri di Indonesia. Pertama adalah dengan pembangunan industri dengan tujuan peningkatan ekspor. Kedua adalah dengan mengutamakan SDM dalam negeri sebagai sasarannya. Cara pertama ini diusulkan sekelompok ahli ekonomi Indonesia yang terkenal dengan sebutan Mafia Berkeley, dimana mereka berusaha menaikan ekspor dengan melakukan ekspor sebanyak-banyaknya. Peristiwa 15 Januari 1974, yang dikenal dengan sebutan Malari ini, juga memuat adanya isu ras dan adanya ketakutan kerjasama Indonesia dengan pihak luar negeri, dimana Indonesia akan mendapatkan keuntungan yang lebih sedikit. Peristiwa Malari ini sendiri adalah kerusuhan yang terjadi akibat demonstrasi mahasiswa dalam menolak kedatangan perdana menteri Jepang yang saat itu hendak melakukan kerjasama ekonomi dengan Indonesia.

 

A. Kronologi peristiwa Malari

Untuk lebih menjelaskan, kronologi peristiwa Malari bisa dilihat sebagai berikut. Peristiwa ini lebih kepada pergerakan mahasiswa menentang kebijakan pemerintah. Ada beberapa penyebab dari peristiwa Malari, yaitu cara perekonomian Orde Baru, gerakan mahasisiwa, penanaman modal Jepang, liputan surat kabar yang negatif, krisis pangan, dan pertentangan antara Soemitro dan Ali Moertopo yang mewakili dua perspektif dalam pebangunan industri di Indonesia. Pada 15 Januari 1974, saat mahasiswa UI bergerak menuju Universitas Trisakti, terjadi pembakaran terhadap kendaraan dan toko-toko Jepang, khususnya ASTRA. Pelakunya sendiri tidak jelas sampai sekarang.

 

B. Liputan Surat Kabar Indoneisa Raya Atas Peristiwa Malari

 

  • Dalam tajuk rencana 14 Januari 1974, Mochtar Lubis menyatakan tentang bagaimana kerjasama Jepang dengan negara-negara Asia Tenggara yang lain, dimana pada intinya kerjasama itu selalu merugikan.

  • Dalam tajuk rencana 15 Januari 1974, Mochtar Lubis menyoroti demo mahasiswa terhadap kedatangan PM Tanaka dari Jepang, dan menyebutkan jangan terburu-buru menyatakan mahasiswa melakukan makar. Dalam tajuk rencana tanggal 15 Januari 1974 ini juga Indonesia Raya melaporkan mahasiswa ditunggangi pihak-pihak tertentu.

  • Pada tanggal 17 dan 18 Januari 1974, Indonesia Raya mengeluarkan laporan tentang huru hara 15 Januari 1974.

 

Surat kabar Indonesia Raya sendiri berhenti setelah mengalami pembredelan pada tanggal 21 Januari 1974 terkait dengan kritiknya yang keras pada pemerintah terkait peristiwa Malari. Surat kabar Indonesia Raya dianggap menghasut masyarakat dan menjatuhkan wibawa pemerintah. Pembredelan itu dilakukan karena Indonesia Raya telah dianggap melanggar Tap MPR No. IV/MPR/1973 yang berisi tentang GBHN dan UU No. 11/1966 tentang ketentuan Pers.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s