FRIEDRICH NIETSZCHE DAN NIHILISME

SIAPAKAH FRIEDRICH NIETSZCHE?

Nietzsche-Friedrich-Portrait-1860

Sebagai awalan, sejenak mari membaca sedikit biografi tentang Friedrich Nietszche. Dia  dilahirkan di Saxony, Prussia pada 15 Oktober 1844 dan meninggal di Weimar, Jerman pada 25 Agustus 1900. Pada tahun 1858, Nietzsche masuk sekolah arama di Pforta dan memperoleh nilai tinggi dalam bidang agama, sastra Jerman dan zaman klasik. Setelah lulus dari Pforta, pada tahun 1864 ia belajar di Universitas Bonn bidang teologi dan filologi klasik. Sayangnya, hanya setahun ia belajar di sana dan kemudian pindah ke Leipzig. Tahun 1879-1889 ia dipanggil Universitas Basel untuk mengajar filologi dan setelah itu ia terpaksa pensiun dengan alasan kesehatan. Kehidupan produktif Nietzsche berlangsung hingga tahun 1889, hingga pada akhirnya tahun 1900 ia meninggal karena penyakit kelamin yang dideritanya. Karya-karya terbesarnya antara lain Also Sprach Zarasutra (Demikianlah Sabda Zoroaster), Jenseits von Gut und Bose (DI Seberang yang Baik dan Jahat), dan Zur Genealogie der Moral (Tentang Asal-usul Moralitas). [1]

 

Pemikiran dari Nietszche termasuk radikal namun berpengaruh. Secara singkat, Nietszche mengatakan bila manusia harus bisa bebas dari hal-hal lain yang menghalanginya untuk bisa berkembang secara penuh. Pemikirannya diawali dari kritik kerasnya terhadap agama Kristen yang mengajarkan bahwa segala yang ada di dunia itu tidak lebih penting dibanding kehidupan setelah kematian, sehingga manusia harus menjauhi hal-hal yang bersifat duniawi. Dampaknya, manusia harus menghindari kehidupan itu sendiri, karena dianggap sebagai hal yang buruk oleh agama Kristen. Oleh Nietszche, agama Kristen dianggap sebagai pemikiran yang menghambat dan memandang rendah manusia, sehingga manusia harus bisa menghilangkan hal-hal yang dianggap menghambat manusia. Menurut Nietszche, manusia harus membunuh Tuhan agar manusia bisa berkembang secara penuh dan tidak tergantung pada Tuhan.[2]

 

Dalam buku 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke 19, Franz Magnis-Suseno mengutip Hirschberger tentang pandangan Nietszche tentang dirinya sendiri, “Aku bukan manusia, aku dinamit… aku menentang sebagaimana belum ada yang menantang”. Kutipan itu terasa pas dengan pemikiran yang dikemukakan oleh Nietszche, dimana dia menghancurkan pendapat yang sudah ada. Hal itu terlihat dari pendapatnya tentang filsafat Yunani, dimana Nietszche menyatakan bahwa Apollo merupakan kedok dari jiwa Yunani yang sebenarnya, yaitu penuh nafsu, liar, gelap, dikuasai insting, tidak teratur, dan sebagainya. Dalam mitologi Yunani, Apollo dianggap sebagai simbol keceriaan Yunani. Menurutnya, dewa yang pantas menggambarkan jiwa Yunani sebenarnya adalah Dionysius, yang dikenal sebagai dewa orang kesurupan, kesuburan, dan orang mabuk. Dinyatakan oleh Nietszche bahwa rasional, keindahan, dan terang hanyalah topeng dionisik yang gelap.[3]

 

NIHILISME

 

Sifat desktruktif dari Nietszche membuatnya dikenal sebagai salah seorang filsuf yang identik dengan nihilisme. Nihilisme adalah sebuah kepercayaan dimana semua nilai-nilai yang ada tidak memiliki dasar dan tidak ada yang bisa diketahui dan dikomunikasikan. Seorang nihilis sejati tidak akan percaya pada apapun, tidak memiliki loyalitas dan tujuan apapun, sehingga dia memiliki dorongan untuk menghancurkan. Nietszche berpendapat sifat merusak dari nihilisme akan perlahan menghancurkan semua nilai-nilai moral, agama, dan keyakinan metafisika yang akan menjadi krisis terbesar bagi umat manusia. Hal itu dinyatakan dalam tulisannya yang berjudul Will to Power,

“Apa yang kumaksud adalah sejarah dari dua abad kemudian. Aku mendeskripsikan apa yang akan datang, sesuatu yang tidak berubah: kedatangan nihilisme… untuk beberapa waktu sekarang, semua budaya Eropa kita telah bergerak ke arah bencana, dengan tekanan yang menyiksa yang terus tumbuh dari dekade ke dekade dengan keras, dan cepat, seperti sungai yang mau menuju ujungnya”[4]

 

Atas dasar pemikiran nihilisme itu, Nietszche mengeluarkan peryataan bahwa “Tuhan Sudah Mati” sebagai peristiwa paling penting abad ini. Nietszche melihat bahwa nilai-nilai tradisional di Eropa sudah menuju kehancuran dan nihilisme itu tidak terpisahkan dari agama, khususnya Kristen, karena budaya Eropa didominasi oleh Kristen. Atas dasar itulah Nietszche mengeluarkan pernyataannya, dimana dia melihat Tuhan sebagai gagasan dari manusia yang tidak berani menentukan nasib dan mengikuti dorongan daya hidupnya sendiri. Tuhan dilihat oleh Nietzsche sebagai penghambat dari kemajuan manusia, karena dengan adanya Tuhan maka tidak ada lagi ruang bagi pengembangan diri manusia.[5]

 

Ramalan masa depan Nietszche yang berarti nihilisme ini dia anggap sangat berbahaya. Hal ini dikarenakan ketiadaan Tuhan akan membuat manusia mengikuti apapun dan siapapun yang menawarkan suatu perasaan memiliki suatu nilai di alam semesta yang tidak berarti ini. Nietszche sendiri tidak percaya pada kemampuan moral mayoritas orang biasa bisa bertahan dari hal ini, karena menurutnya sebagian besar manusia itu sama seperti sapi, yang hidup dalam kawanan dan bermental sebagai pengikut. Namun, Nietszche juga tidak memungkiri kalau nanti akan muncul manusia-manusia super yang bisa hidup dengan nilai-nilai yang mereka buat sendiri, dan tidak mengikuti nilai-nilai dari orang lain.[6]

 

TUHAN SUDAH MATI

 

Pernyataan “Tuhan Sudah Mati” menjadi pengantar kritik Nietszche terhadap agama Kristen, dimana ini merupakan kritiknya yang paling keras. Nietszche memiliki banyak alasan untuk mengkritik agama Kristen, dimana dia merasa Kristen telah menyentuh bagian yang salah pada umat manusia, lebih memilih kelemah lembutan, mentalitas kawanan, dan moralitas yang salah terhadap kekuatan, kepintaran individu, dan kejujuran. Nietszche merasa agama Kristen bertentangan dengan pencarian kebenaran, pendekatan ilmiah, dan sensualitas, dimana hal-hal itu digantikan dengan kepercayaan buta, penyangkalan diri, dan kesalehan. Dalam hal ini, Nietszche melihat keberadaan Tuhan bukan secara metafisik, namun secara filosofis dan efek psikologisnya.[7]

 

Pemikiran Nietszche tentang kematian Tuhan juga didukung dengan kondisi masa hidupnya. Nietszche hidup pada masa pertengahan abad ke 19, dimana pada masa itu di Eropa sedang terjadi Revolusi Industri dan kebangkitan dari positivisme. Keadaan itu dilihat Nietszche sebagai krisis moral yang makin mendukung munculnya nihilisme. Moral dipandang oleh Nietszche sebagai topeng munafik yang disuburkan untuk memberdayakan manusia, sehingga manusia menjadi lemah. Dalam konsep manusia supernya, Nietszche menganggap der wille zur macht (kehendak untuk berkuasa) menjadi insting utama manusia ketika hadir di dunia. Dengan keadaan jamannya yang seperti itu, maka Tuhan telah terbunuh sendiri oleh sekulerisme di Eropa dan menuju pada nihilisme.[8]

 

Lebih jauh lagi, Nietszche melihat agama Kristen menjadi penghambat dari perkembangan manusia super yang dia idamkan. Berikut ini adalah pendapat Nietszche tentang agama Kristen dari bukunya, Jenseits von Gut und Bose, yang dikutip oleh Franz Magnis-Suseno dalam bukunya, 13 Tokoh Etika:

“Agama Kristen secara prinsipil menyelamatkan yang sakit dan menderita, memutar balikkan segala yang kuat, membusukkan harapan-harapan besar, mencurigai kebahagiaan dalam keindahan, mematahkan yang angkuh, jantan, si penindas, si rakus kuasa, semua naluri yang dimiliki tipe ‘manusia’ yang paling tinggi dan berhasil, sampai menjadi kebimbangan, siksaan suara hati, dan perusakan diri”

Dari kutipan ini, terlihat jelas bagaimana Nietszche membenci agama Kristen, khususnya apa yang menjadi moral agama Kristen, yaitu cinta kasih, perhatian pada yang lemah, dan kerendahan hati. Hal-hal itu bertentangan dengan sikap yang seharusnya menurut dia, yaitu angkuh, keras, dan maju mengikuti insting tanpa memperhatikan mereka yang lemah.[9]

 

Serangan Nietszche terhadap agama Kristen ini bisa diartikan dengan lebih luas. Kematian Tuhan juga berarti kematian terhadap nilai-nilai tinggi yang selama ini dipegang oleh manusia. Hal ini bisa dilihat juga sebagai evaluasi kembali terhadap semua nilai, dengan mempertanyakan kembali semua cara berpikir manusia yang dikendalikan oleh etika, dan mengenai arti dan tujuan dari kehidupan. Dengan pemikirannya mengenai Dionysius sebagai wajah asli dari peradaban Yunani, Nietszche juga mengklaim bahwa banyak hal yang kita anggap baik malah menghambat atau membelokkan kita dari kehidupan manusia. Sebagai contohnya, kita terus melakukan pekerjaan yang rutin dan membosankan bukan karena kita butuh, tapi karena kita merasa itu adalah tugas kita. Di sini, Nietszche bermaksud untuk mengakhiri pemikiran yang menghambat kehidupan sehingga manusia bisa melihat dirinya dengan cara yang berbeda.

 

Serangan Nietszche ini juga menjangkau tentang pandangan dua dunia dari agama Kristen. Dalam ajarannya, Kristen membagi dunia menjadi dua, yaitu dunia kehidupan dan dunia setelah kematian yang sering disebut surga. Untuk mencapai surga di kehidupan setelah kematian, manusia harus menekan keinginannya di dunia kehidupan. Hal itu membuat Nietszche mengatakan para pendeta dari semua agama sebagai “penceramah kematian” karena ajaran mereka yang menekankan manusia untuk beralih dari dunia dan mempersiapkan tentang kehidupan setelah mati. Untuk itu, pemikiran tentang dua dunia dalam agama Kristen harus dihilangkan, sehingga manusia bisa berkembang sepenuhnya dengan dunia kemanusiaannya.[10]

 

DAFTAR PUSTAKA

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Nietzsche

[2] Darling Kindersley Limited. The Philosophy Book. London: Dorling Kindersley Limited, 2011. Hal 216

[3] Magnis-Suseno, Franz. 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke 19. Yogyakarta:Kanisius. 1997. Hal 197

[4] http://www.iep.utm.edu/nihilisme/

[5] Op.Cit. hal 198

[6] Turnbull, Neil. Bengkel Ilmu Filsafat. Jakarta: Erlangga. 2005. Hal 141-142

[7] http://www.absintheliteraryreview.com/archives/fierce6.htm

[8] http://www.kompasiana.com/multatuli/mengenal-nietzsche-sosok-si-pembunuh-tuhan_5500a483a33311376f511b83

[9] Magnis-Suseno, Franz. 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke 19. Yogyakarta:Kanisius. 1997. Hal 200

[10] Darling Kindersley Limited. The Philosophy Book. London: Dorling Kindersley Limited, 2011. Hal 218-219

One thought on “FRIEDRICH NIETSZCHE DAN NIHILISME

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s