Summary “America’s Uncivil War, The Sixties Era from Elvis to the Fall of Richard Nixon”

51o2rId2K-L._SX326_BO1,204,203,200_

Lytle, Mark Hamilton. America’s Uncivil Wars, The Sixties Era from Elvis to the Fall of Richard    Nixon. Oxford University Press, New York. 2006

 

Buku ini membahas tentang Amerika Serikat pada era 1960an dari sudut pandang budaya dan sosial masyarakat. Bab I memberikan latar belakang tentang Amerika Serikat era 1960an dengan pembahasan dari 1950an, yang akhirnya membentuk budaya dan sosial masyarakat tahun 1960an. Bab II membahas tentang Amerika Serikat pada era 1960an, dari 1964 sampai 1968, dimana ada perang Vietnam, Counterculture, dan gerakan anti perang Vietnam. Bab III membahas tentang puncak dari era 1960an sampai skandal Watergate, yang menjadi kejatuhan bagi Richard Nixon. Bagian yang akan dipakai penulis dalam buku ini adalah part I (The Era of Consensus, 1954-63) dan part II (The Sixties, 1964-68).

Part I secara umum membahas tentang Amerika Serikat pada era 1950an. Part I ini juga terdiri dari beberapa sub bab, yaitu The Consensus, The Cultural Cold War, Cracks in the Consensus, The New Generation, The Cold War on the New Frontier, dan The Second Civil War. Disini, penulis akan mengambil sub bab The Consensus dan The Cultural Cold War, dimana kedua sub bab itu akan penulis letakkan pada bab pendahuluan dan bab II dalam skripsinya.

Adapun hal yang dibahas dalam sub bab The Consensus adalah keadaan Amerika Serikat pada awal era 1950an, dan apa saja peristiwa yang ada didalamnya. Pada awal era 1950an, Amerika Serikat sedang melakukan politik containment untuk membendung komunis, baik itu di luar negeri dan dalam negerinya. Sub bab ini sendiri lebih membahas tentang bagaimana Amerika Serikat melakukan politik containment di dalam negerinya sendiri. Doktrin bahwa “komunis itu jahat” disebarkan lewat gereja, sekolah, bahkan siaran televisi. Gereja dan sekolah melakukan doktrin secara langsung dalam pengajarannya, mereka mengajarkan bahwa Moskow itu sarang setan dan mereka akan meluncurkan bom atom ke Amerika Serikat; bahwa murid-murid harus bersumpah terhadap bendera dan Tuhan bahwa mereka akan memerangi komunis; bahwa jika belajar dengan rajin, kerja keras, dan menghormati orang tua adalah cara mencapai kesuksesan; ganja akan membuat kita menjadi pecandu berat drugs; dan mengajarkan “duck and cover” bila terjadi ledakan bom. Penyebaran doktrin juga dilakukan lewat sarana televisi, dengan iklan dan film. Oleh presiden Eisenhower, hal ini disebut “Modern Republicanism”, yaitu mencampur family values dan anti communism. Anti communism ini sendiri akhirnya menjadi bumerang dengan munculnya New Right dan McCarthyism, dimana akhrinya nanti muncul ketidakpercayaan terhadap pemerintah karena McCarthy, yang dibantu oleh New Right,  menuduh di kalangan pemerintah sendiri ada orang komunis. Oleh pemerintah sendiri, McCarthy, yang  sudah terlanjur dipercaya masyarakat, akhirnya “dimatikan” lewat acara hearing antara tentara dan McCarthy sendiri.

Sementara itu hal yang dibahas dalam sub bab The Cultural Cold War adalah munculnya budaya rebel di kalangan remaja, dimana oleh pemerintah hal itu dianggap sebagai ulah komunis. Pada era pasca peran dunia II terjadi fenomena bernama baby boom, dimana jumlah kelahiran mencapai titik tertinggi, dan pada awal era 1950an anak-anak itu mencapai usia remaja dan di masyarakat jumlahnya mendominasi dan akhirnya menciptakan sub kultur sendiri, sehingga remaja menjadi perhatian bagi pemerintah. Dalam sub kultur itu terjadi budaya rebel yang direpresentasikan dalam film The Wild One dan Rebel Without a Cause, dimana kedua film itu menceritakan remaja yang bosan dengan kehidupannya dan memberontak terhadap segala hal, termasuk yang diajarkan oleh sekolah dan gereja. Selain itu, media juga banyak menampilkan sesuatu yang berkaitan dengan kalangan remaja, seperti komik, musik rock’n’ roll, dan film semacam The Wild One dan Rebel Without a Cause. Pada saat itu juga musik rock’n’ roll baru mulai muncul, dan karena saat konsernya banyak terjadi tindakan kriminal, maka kalangan orang tua dan pemerintah sangat melarang musik ini. Hal ini menjadi fenomena yang terkenal dengan istilah Juvenile Deliquency. Selain itu, kalangan masyarakat juga masih menganggap musik rock’n’ roll sebagai musik kulit hitam, sehingga mereka punya tangga lagu tersendiri dan tiap lagu rock’n’ roll yang muncul dari kulit hitam pasti dibuat ulang oleh orang kulit putih. Walau begitu, remaja tetap menyukai musik itu, dan pada era 1950an musik rock’n’ roll menjadi musik yang mendominasi radio.

Part II secara umum membahas tentang Amerika Serikat pada era 1960an. Part II ini terdiri dari beberapa subbab, yaitu 1964: Welcome to the 1960s; Teach In, Strike Up: The Uncivil Wars Heat Up; The Great Freak Forward; A Very Hard Year Begins; dan A Bad Year Gets Worse: The Domestic War Front. Disini penulis akan mengambil sub bab 1964: Welcome to the 1960s saja, karena British Invasion sendiri terjadi pada tahun 1964, yang menurut buku ini menjadi permulaan dari era 1960an. Sub bab itu sendiri akan penulis letakkan di bab III dalam skripsinya.

Hal yang dibahas dalam sub bab 1964: Welcome to the 1960s adalah kejadian penting yang nanti akan mencapai puncaknya di akhir era 1960an. Menurut buku ini, kejadian-kejadian itu antara lain The Rock Revolution, Lyndon Johnson and Civil Rights, Mississippi Freedom Summer, MFDF at Atlantic City, Lyndon Johnson and Vietnam, Fallout of Freedom Summer, dan Free Speech Movement. Penulis sendiri akan lebih menyoroti pada The Rock Revolution, karena disitu diceritakan tentang British Invasion yang menjadi awal dari diterimanya rock’n’ roll secara luas oleh masyarakat Amerika Serikat. Pada tahun 1950an, musik rock’n’ roll mendominasi radio, tapi pada awal 1960an rock’n’ roll mulai menghilang, seiring dengan banyak pemusik rock’n’ roll yang terkena kasus, mengundurkan diri, dan Elvis masuk wajib militer. Posisi rock’n’ roll sendiri akhirnya disaingi oleh Motown (campuran dari blues, gospel, dan pop, pionirnya adalah Barry Gordy, dan pemusiknya adalah kulit hitam), dan musik surfing yang berkembang di California. Pada tahun 1964, lagu dari The Beatles, I Want To Hold Your Hand, masuk dari Inggris ke Amerika Serikat dan menjadi hit. Ed Sullivan, seorang presenter varitey show televisi yang populer, menampilkan The Beatles dalam acaranya, dan The Beatles langsung menjadi fenomena di Amerika Serikat. Dalam sub bab ini juga dijelaskan apa perbedaan The Beatles dengan pemusik rock’n’ roll dari Amerika Serikat sebelumnya, dan terutama perbandingannya dengan Elvis yang pernah menjadi fenomena di Amerika Serikat. Selain itu dibahas juga dampak apa saja yang dibawa The Beatles secara umum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: